OJK Maksimalkan Peningkatan Literasi & Inklusi Keuangan Lewat LMSKU
- 13 Okt 2023 16:00 WIB
- Cirebon
KBRN, Cirebon: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mengakselerasi peningkatan literasi keuangan kepada masyarakat dengan sebaik mungkin.
Salah satu upaya untuk mengakselerasi peningkatan literasi dan inklusi keuangan, OJK memiliki Learning Management System Edukasi Keuangan OJK (LMSKU) yang bisa diakses oleh masyarakat.
"YLMSKU OJK merupakan sistem pembelajaran dan pelatihan yang mandiri dan terintegrasi terkait edukasi dan literasi keuangan," ungkap Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 2 Jawa Barat, Indarto Budiwitono pada Jumat (13/10/2023).
LMSKU terbagi menjadi tiga level, yaitu Basic, Intermediate, dan Advance.
Masyarakat dapat mengakses LMSKU OJK dari manapun melalui smartphone atau PC."Bisa diakses dari manapun selama terhubung jaringan internet," ujarnya.
Ada 10 topik modul pembelajaran yang bisa diakses oleh masyarakat yakni pengenalan OJK dan waspada investasi ilegal, perencanaan keuangan, perbankan, pasar modal. "Lalu, ada asuransi, lembaga pembiayaan, dana pensiun, pergadaian, digital dinancial literady dan financial technology," katanya.
Ia menjelaskan, LSMKU OJK merupakan satu dari strategi peningkatan literasi keuangan secara online. Selain LSMKU OJK, program lainnya yang dimiliki OJK antara lain edukasi keuangan melalui live Instagram. Konten minisite SikapiUangmu dan Talkshow Radio.
Edukasi keuangan melalui kampanye Influencer dan juga penayangan iklan layanan masyarakat (ILM) di berbagai media. Strategi peningkatan literasi secara online ini dikatakan Indarto dikombinasikan juga dengan kegiatan offline yang dilakukan OJK dan juga pelaku usaha jasa keuangan (PUJK).
Hal ini sejalan visi Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNKLI) 2021 - 2025 yakni, mewujudkan masyarakat Indonesia yang memiliki indeks literasi keuangan yang tinggi.
Sehingga dapat memanfaatkan produk dan layanan jasa keuangan yang sesuai untuk mencapai kesejahteraan keuangan yang berkelanjutan. "Program strategisnya antara lain cakap keuangan, sikap dan perilaku keuangan yang bijak, akses keuangan," sambung Indarto.
Ia menambahkan, saat ini OJK mencatat indeks literasi keuangan nasional pada tahun 2022 mencapai sebesar 49,68 persen. Sementara indeks inklusi keuangan nasional pada tahun 2022 mencapai sebesar 85,1 persen.
Gap indeks literasi dan inklusi keuangan yang besar ini menurutnya menjadi salah satu tantangan tersendiri yang dihadapi OJK. "Tantangan lainnya yakni akses jasa keuangan, kondisi geografis dan demografis penduduk,
kompleksitas produk keuangan, keterbatasan infrastruktur, mandat baru dalam UU P2SK," tuturnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....