Beban Kerja Tinggi Picu Risiko Burnout pada Tenaga Kesehatan

  • 30 Sep 2026 08:05 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Tingginya tuntutan pelayanan kesehatan membuat tenaga kesehatan menghadapi risiko kelelahan fisik dan psikologis dalam menjalankan tugas. Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Kesehatan Kota Cirebon melalui program Oksigen Nakes.

Ketua Tim Binwas Mutu SDMK Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Vita Alamanda, mengatakan tenaga kesehatan kerap menghadapi jumlah pasien yang tinggi dalam aktivitas pelayanan sehari-hari. Kondisi itu membuat sebagian tenaga kesehatan bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar saat bertugas.

“Ketika saya berbicara dengan dokter, bidan, atau perawat, ketika mereka terbuka kepada kami, mereka berkata, ‘Saya bahkan tidak bisa ke kamar mandi, aku menahan diri, karena pasiennya begitu banyak,’” katanya dalam program Beranda Asta Cita RRI Cirebon, Jumat 25 September 2026.

Ia menjelaskan, kelelahan kerja perlu dibedakan dengan kondisi burnout. Menurutnya, burnout dapat ditandai dengan munculnya beban psikologis bahkan sebelum seseorang memulai aktivitas pekerjaan.

Ia menyebut salah satu tanda burnout dapat terlihat ketika seseorang mulai merasa terbebani hanya dengan membayangkan aktivitas pekerjaannya. Kondisi tersebut berbeda dengan rasa lelah biasa yang masih dapat dipulihkan melalui istirahat maupun aktivitas lain.

“Jika mereka ingin pergi ke pusat kesehatan komunitas, baru tiba di pintu depan, mereka mungkin sudah berpikir, ‘Oh, pasien ini lagi. Oh, jumlahnya banyak lagi, apa yang harus aku lakukan?’ Itu sebenarnya tanda-tanda burnout,” katanya.

Menurutnya tenaga kesehatan membutuhkan ruang untuk berbagi cerita agar beban emosional tidak terus dipendam. Program Oksigen Nakes menjadi salah satu upaya untuk membantu mereka mengenali kondisi diri dan memperoleh dukungan.

“Fungsi dari Oksigen Nakes, kami mengembalikannya ke seperti apa adaptif coping itu. Bukan yang maladaptif, yang selalu berputar keluar,” katanya..

Ia juga mendorong tenaga kesehatan untuk mengenali batas kemampuan diri dan membicarakan kondisi yang dirasakan kepada orang yang dipercaya. Menurutnya, komunikasi dengan teman, keluarga, maupun tenaga profesional dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....