Detoks Kafein: Perlukah Berhenti Minum Kopi?

  • 21 Sep 2026 11:29 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Kopi sudah menjadi bagian dari rutinitas banyak orang. Secangkir kopi di pagi hari membantu mengawali aktivitas, sementara kopi di sore hari sering dipilih untuk menjaga mata tetap terjaga. Namun, ketika konsumsi kafein mulai terasa berlebihan, istilah detoks kafein pun banyak digunakan untuk menggambarkan usaha mengurangi atau menghentikan konsumsi kafein selama periode tertentu.

Sebenarnya, tubuh tidak membutuhkan program detoks khusus untuk membuang kafein. Yang lebih tepat adalah mengurangi asupan kafein, terutama jika seseorang merasa konsumsinya sudah terlalu tinggi atau mulai mengganggu tidur dan aktivitas sehari-hari. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyebut hingga 400 miligram kafein per hari sebagai jumlah yang secara umum tidak dikaitkan dengan efek negatif pada kebanyakan orang dewasa, meski sensitivitas setiap orang berbeda.

Masalahnya, berhenti minum kopi secara mendadak tidak selalu membuat tubuh langsung terasa lebih segar. Orang yang terbiasa mengonsumsi kafein setiap hari dapat mengalami gejala putus kafein, seperti sakit kepala, mengantuk, kelelahan, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, atau suasana hati yang menurun. Tinjauan penelitian menemukan gejala biasanya mulai muncul sekitar 12–24 jam setelah konsumsi dihentikan, mencapai intensitas tertinggi sekitar 20–51 jam, lalu berangsur membaik dalam beberapa hari.

Karena itu, mengurangi secara bertahap bisa menjadi pilihan yang lebih nyaman dibandingkan langsung berhenti. FDA juga menyarankan konsumen yang ingin mengurangi kafein untuk melakukannya secara perlahan karena gejala putus kafein memang dapat terasa tidak menyenangkan. Misalnya, jika biasanya minum tiga cangkir kopi sehari, jumlah tersebut dapat dikurangi secara bertahap sebelum benar-benar beralih ke kopi rendah kafein atau tanpa kafein.

Selama proses tersebut, penting memperhatikan bahwa kafein tidak hanya berasal dari kopi. Teh, minuman energi, minuman bersoda tertentu, cokelat, serta beberapa produk dan obat juga dapat mengandung kafein. Artinya, seseorang yang merasa sudah mengurangi kopi belum tentu benar-benar banyak mengurangi total asupan kafeinnya jika masih mengonsumsi sumber lain.

Ada pula alasan praktis mengapa seseorang memilih mengurangi kafein, terutama ketika konsumsi minuman berkafein mulai berkaitan dengan keluhan seperti sulit tidur, gelisah, jantung berdebar, sakit kepala, atau gangguan pencernaan. FDA mencatat konsumsi kafein dalam jumlah berlebihan dapat menimbulkan efek seperti kecemasan, rasa gelisah, sakit perut, mual, dan sakit kepala, dengan tingkat sensitivitas yang berbeda pada setiap orang.

Jika ingin mencoba mengurangi kafein, langkah sederhana bisa dimulai dengan mencatat semua sumber kafein selama beberapa hari, mengurangi porsinya secara bertahap, memperbanyak air putih, serta menghindari menjadikan kopi sebagai satu-satunya cara untuk mengatasi rasa lelah. Tidur yang cukup dan pola aktivitas yang teratur tetap menjadi bagian penting untuk menjaga energi tubuh.

Detoks kafein tidak harus dipandang sebagai tantangan untuk benar-benar berhenti minum kopi. Bagi sebagian orang, tujuannya justru lebih sederhana, yaitu mengetahui seberapa banyak kafein yang dikonsumsi dan melihat apakah pengurangan tersebut membuat tubuh terasa lebih nyaman. Jika muncul keluhan yang berat atau konsumsi kafein terasa sulit dikendalikan, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan langkah yang sesuai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....