Mengetahui Lebih Banyak Istilah Gagal Ginjal
- 31 Agt 2026 21:59 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID,Cirebon - Gagal ginjal merupakan kondisi serius ketika fungsi ginjal menurun hingga tidak lagi mampu menjalankan tugasnya secara optimal, terutama menyaring limbah dan kelebihan cairan dari darah. Namun, istilah “gagal ginjal” sebenarnya berkaitan dengan sejumlah istilah medis lain yang penting dipahami masyarakat, seperti acute kidney injury (AKI), chronic kidney disease (CKD), kidney failure, hingga end-stage kidney disease (ESKD). WHO menjelaskan bahwa penyakit ginjal mencakup AKI dan CKD, dengan gagal ginjal sebagai bentuk paling berat dari CKD.
Salah satu istilah yang perlu dikenal adalah Acute Kidney Injury (AKI) atau cedera ginjal akut. Kondisi ini terjadi ketika kemampuan ginjal menyaring limbah menurun secara tiba-tiba dalam hitungan jam hingga hari. National Kidney Foundation menyebut AKI sebagai istilah yang kini lebih banyak digunakan dibandingkan istilah lama acute renal failure (ARF). AKI dapat berkaitan dengan berbagai kondisi seperti penyakit berat, cedera, kekurangan cairan, maupun faktor medis tertentu, sehingga membutuhkan penanganan segera.
| Baca juga: Gejala Hanta Virus yang harus diketahui |
Berbeda dengan AKI, terdapat istilah Chronic Kidney Disease (CKD) atau penyakit ginjal kronis. CKD merupakan kondisi ketika ginjal mengalami kerusakan atau penurunan fungsi yang berlangsung setidaknya selama tiga bulan. Penyakit ini dapat berkembang secara perlahan dan pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. National Kidney Foundation menjelaskan bahwa CKD dibagi ke dalam beberapa stadium berdasarkan tingkat fungsi ginjal, sehingga pemeriksaan sejak dini menjadi penting.
Dalam pemeriksaan fungsi ginjal, masyarakat juga dapat menemukan istilah eGFR atau estimated Glomerular Filtration Rate. Angka ini merupakan perkiraan kemampuan ginjal dalam menyaring darah dan menjadi salah satu parameter yang digunakan tenaga kesehatan untuk menilai fungsi ginjal serta menentukan stadium CKD. Menurut NIDDK, evaluasi penyakit ginjal kronis dapat menggunakan eGFR yang dihitung dari kadar kreatinin darah, disertai pemeriksaan urine seperti rasio albumin-kreatinin.
stilah berikutnya adalah kidney failure, yang dalam bahasa Indonesia umum disebut gagal ginjal. NIDDK menjelaskan bahwa seseorang dikategorikan mengalami gagal ginjal ketika fungsi ginjal turun hingga kurang dari sekitar 15 persen dari normal. Pada kondisi tersebut, penumpukan limbah dan kelebihan cairan dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan dan diperlukan pilihan terapi pengganti fungsi ginjal, seperti hemodialisis, dialisis peritoneal atau transplantasi ginjal.
Sementara itu, istilah End-Stage Kidney Disease (ESKD) atau End-Stage Renal Disease (ESRD) merujuk pada kondisi gagal ginjal tahap akhir. National Kidney Foundation menyebut stadium 5 CKD sebagai gagal ginjal, yang umumnya ditandai eGFR kurang dari 15 selama periode yang sesuai dengan kriteria CKD atau pasien telah menjalani dialisis. Pada tahap ini, terapi pengganti fungsi ginjal seperti dialisis atau transplantasi dapat diperlukan untuk mempertahankan kehidupan.
Memahami istilah-istilah tersebut penting agar masyarakat tidak menyamakan semua gangguan ginjal sebagai “gagal ginjal”. AKI dapat terjadi secara tiba-tiba, sedangkan CKD berkembang dalam jangka panjang dan dapat berujung pada gagal ginjal. Pemeriksaan darah dan urine dapat membantu mendeteksi gangguan ginjal, bahkan ketika seseorang belum merasakan gejala. WHO menegaskan bahwa pemeriksaan kreatinin darah dan albumin dalam urine dapat digunakan untuk mendeteksi CKD di layanan kesehatan primer. Karena itu, masyarakat yang memiliki faktor risiko atau keluhan yang mengarah pada gangguan ginjal sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....