Mengenal Lebih Dekat Cacing sebagai Obat Turun Panas

  • 31 Agt 2026 21:57 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID,Cirebon - Penggunaan cacing tanah sebagai obat tradisional untuk membantu meredakan demam sudah lama dikenal di sebagian masyarakat Indonesia. Salah satu jenis yang kerap disebut adalah Lumbricus rubellus. Ekstrak atau olahan cacing bahkan dipercaya secara turun-temurun dapat membantu menurunkan panas, terutama ketika seseorang mengalami demam yang dikaitkan dengan penyakit tifoid atau tipes. Namun, benarkah cacing dapat menjadi obat penurun panas yang terbukti secara medis?

Secara tradisional, cacing tanah (Lumbricus rubellus) digunakan dengan cara diolah menjadi ekstrak atau bahan obat tertentu. Masyarakat menggunakannya karena meyakini kandungan protein dan senyawa tertentu di dalam cacing memiliki aktivitas biologis yang dapat membantu tubuh menghadapi peradangan maupun infeksi. Sejumlah penelitian memang menemukan potensi farmakologis Lumbricus rubellus, termasuk aktivitas antiinflamasi dan antibakteri, tetapi penelitian klinis yang lebih kuat dan terstandar masih diperlukan untuk memastikan manfaat serta keamanannya pada manusia.

Mengapa cacing dipercaya dapat menurunkan panas? Demam pada dasarnya merupakan respons tubuh terhadap infeksi atau kondisi tertentu. Dalam penggunaan tradisional, ekstrak cacing dipercaya dapat membantu meredakan gejala tersebut. Akan tetapi, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa berbagai pengobatan herbal untuk menurunkan demam belum memiliki bukti ilmiah yang cukup kuat, sehingga penggunaannya tidak boleh menggantikan penanganan medis yang sudah terbukti.

Hal penting lainnya adalah membedakan meredakan demam dengan mengobati penyebab demam. Jika demam disebabkan oleh infeksi bakteri seperti demam tifoid, penggunaan cacing tidak dapat dianggap sebagai pengganti antibiotik yang diresepkan dokter. Sumber medis juga menekankan bahwa bukti mengenai kemampuan ekstrak cacing untuk membunuh bakteri penyebab tipes masih terbatas. Karena itu, diagnosis penyebab demam tetap menjadi langkah penting sebelum menentukan pengobatan.

Orang yang mengalami demam perlu diperhatikan kondisi umumnya, termasuk kemampuan makan dan minum, aktivitas, serta frekuensi buang air kecil. Pada anak, IDAI menyarankan orang tua segera membawa anak ke dokter apabila anak semakin lemas, sulit minum, atau buang air kecil menjadi lebih jarang. Penanganan demam pada anak juga harus mempertimbangkan berat badan ketika memberikan obat penurun panas.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menekankan pentingnya pengobatan yang berbasis bukti dan aman. WHO mengakui keberadaan pengobatan tradisional dan mendorong penelitian untuk memperoleh bukti mengenai efektivitas, kualitas, serta keamanannya. Artinya, bahan tradisional seperti cacing tanah masih dapat menjadi objek penelitian, tetapi klaim manfaatnya tidak boleh langsung disamakan dengan obat medis yang telah melalui pengujian dan regulasi.

Dengan demikian, cacing tanah memang memiliki sejarah penggunaan tradisional sebagai bahan untuk membantu meredakan demam, tetapi belum tepat jika disebut sebagai obat turun panas yang sudah terbukti secara medis untuk semua kondisi. Masyarakat sebaiknya tidak mengonsumsi cacing tanah secara sembarangan karena kebersihan, dosis, bentuk pengolahan, dan keamanan menjadi faktor penting. Jika demam tinggi, berlangsung lama, atau disertai gejala mengkhawatirkan, pemeriksaan tenaga kesehatan tetap menjadi pilihan paling aman.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....