Estafet Trauma di Kalangan Gen Z
- 31 Agt 2026 10:35 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – “Kamu belum pernah mengalami itu, kok bisa takut?” Tidak semua luka harus dialami secara langsung untuk meninggalkan pengaruh. Ada anak yang tumbuh dengan ketakutan yang tidak pernah ia alami sendiri, mengikuti pola pengasuhan yang dibentuk oleh pengalaman orang tuanya, atau membawa cara menghadapi masalah yang sebenarnya berasal dari generasi sebelumnya. Fenomena inilah yang sering disebut sebagai estafet trauma atau intergenerational trauma.
Dilansir dari apa.org, intergenerational trauma merupakan dampak psikologis dari pengalaman traumatis yang dapat diteruskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Pewarisan tersebut tidak selalu berarti trauma berpindah secara langsung seperti sebuah “warisan”, tetapi dapat terjadi melalui pola hubungan, perilaku, cara berkomunikasi, keyakinan, serta cara keluarga menghadapi tekanan.
Dalam kehidupan sehari-hari, estafet trauma dapat terlihat dari hal-hal yang tampak sederhana. Misalnya, orang tua yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan kemudian menjadi sangat keras kepada anaknya karena menganggap cara tersebut sebagai bentuk mendidik.
Ada pula orang tua yang terlalu takut mengambil risiko karena pernah mengalami kegagalan, kemudian tanpa sadar menanamkan ketakutan yang sama kepada anak. Pola tersebut dapat terus berulang apabila tidak disadari dan diproses.
Penelitian mengenai trauma lintas generasi menunjukkan bahwa pengalaman traumatis orang tua dapat berkaitan dengan kondisi psikologis anak dan cucu. Faktor hubungan keluarga, pola pengasuhan, komunikasi mengenai pengalaman traumatis, serta cara seseorang memproses trauma menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Trauma tidak selalu “diturunkan” melalui cerita, tetapi juga dapat muncul melalui cara seseorang memperlakukan dan berhubungan dengan anggota keluarganya. Fenomena ini menjadi relevan bagi Gen Z yang semakin terbuka membicarakan kesehatan mental dan pola pengasuhan.
Banyak anak muda mulai mempertanyakan kalimat seperti “orang tua dulu juga dididik begitu dan baik-baik saja” atau “memang dari dulu keluarga kita seperti ini,” kesadaran tersebut membuat sebagian dari mereka mulai mengenali bahwa beberapa kebiasaan keluarga mungkin bukan sesuatu yang harus terus diwariskan, melainkan pola yang dapat dihentikan. Namun, menyadari adanya estafet trauma bukan berarti menyalahkan orang tua atas seluruh persoalan yang dialami seseorang.
Tidak semua pola keluarga merupakan akibat trauma, dan tidak semua anak dari orang tua yang mengalami trauma akan mengalami dampak yang sama. Penelitian mengenai mekanisme biologis trauma lintas generasi juga masih berkembang, yang terpenting adalah mengenali pola yang tidak sehat dan mencari cara untuk memutus siklus tersebut ketika mulai memberikan dampak buruk.
Pada akhirnya, menjadi generasi yang lebih sadar bukan berarti Gen Z harus membawa seluruh luka generasi sebelumnya. Justru, kesadaran dapat menjadi kesempatan untuk menghentikan sesuatu yang selama ini terus berulang.
Jika trauma bisa berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya, maka begitu pula dengan proses penyembuhan. Mungkin, memutus “estafet” tersebut adalah salah satu bentuk keberanian untuk mengatakan bahwa luka lama tidak harus menjadi warisan bagi generasi selanjutnya.
(Sumber: SalshaKhoerunisa_TelkomUniversityBandung)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....