Trauma Bonding, Ikatan Emosional di Balik Kekerasan
- 15 Agt 2026 19:15 WIB
- Cirebon
Poin Utama
- Trauma bonding adalah keterikatan emosional yang terbentuk antara korban dan pelaku kekerasan, membuat korban tetap memiliki perasaan kuat meski mengalami perlakuan merugikan.
- Siklus kekerasan yang diikuti periode tenang, permintaan maaf, dan perhatian menciptakan rasa lega dan harapan perubahan, memperkuat ikatan emosional.
- Fenomena ini bukan sekadar masalah cinta biasa, tetapi mekanisme psikologis kompleks yang membuat hubungan abusif sulit ditinggalkan oleh korban.
RRI.CO.ID, Cirebon - Cleveland Clinic menjelaskan trauma bonding sebagai keterikatan emosional yang dapat terbentuk antara seseorang dengan pihak yang menyakitinya, terutama dalam hubungan yang melibatkan kekerasan atau perlakuan abusif. Ikatan tersebut dapat membuat korban tetap memiliki perasaan kuat terhadap pelaku meskipun mengalami perlakuan yang merugikan.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan seseorang “masih mencintai” pasangan yang menyakitinya. Cleveland Clinic menerangkan bahwa siklus kekerasan yang diikuti periode tenang, permintaan maaf, perhatian, atau perlakuan penuh kasih dapat menciptakan rasa lega dan harapan bahwa keadaan akan berubah, sehingga hubungan menjadi semakin sulit untuk ditinggalkan.
Penelitian Dutton dan Painter dari University of British Columbia pada 1993 menjadi salah satu kajian awal yang menguji teori mengenai traumatic bonding dalam hubungan yang abusif. Penelitian tersebut menemukan bahwa intensitas perlakuan buruk yang terjadi secara tidak konsisten serta ketimpangan kekuasaan dalam hubungan berkaitan dengan kuatnya keterikatan emosional terhadap pasangan yang melakukan kekerasan.
Dalam kondisi seperti ini, perlakuan buruk tidak selalu terjadi secara terus-menerus. Cleveland Clinic menggambarkan adanya pola yang dapat dimulai dari meningkatnya ketegangan, kemudian terjadi tindakan kekerasan atau penghinaan, lalu memasuki fase rekonsiliasi ketika pelaku kembali menunjukkan sikap baik. Pergantian antara pengalaman menyakitkan dan momen yang dianggap menyenangkan dapat membuat korban berpegang pada harapan bahwa sisi baik pelaku akan kembali.
Journal of Interpersonal Violence melalui penelitian mengenai faktor risiko traumatic bonding menemukan bahwa pengalaman kekerasan pada masa kanak-kanak dan pola keterikatan yang tidak aman dapat berhubungan dengan kemungkinan terbentuknya traumatic bonding dalam hubungan yang abusif. Penelitian tersebut juga menemukan adanya hubungan positif antara traumatic bonding dan gejala PTSD, meskipun hubungan tersebut tidak berarti bahwa setiap korban dengan pengalaman masa lalu tertentu pasti akan mengalami trauma bonding.
Tanda lain yang dapat muncul adalah kecenderungan korban mengabaikan tanda bahaya atau mengecilkan perlakuan buruk yang diterimanya. Cleveland Clinic menyebut bahwa seseorang yang berada dalam trauma bond dapat merahasiakan persoalan hubungan dari keluarga dan teman, menarik diri dari lingkungan sosial, atau terus berusaha menjaga suasana agar tidak memicu kemarahan pasangan.
PubMed, melalui kajian sistematis mengenai coercive control, menunjukkan bahwa paparan terhadap kontrol koersif dalam hubungan memiliki hubungan dengan gangguan kesehatan mental, termasuk gejala PTSD dan depresi. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kekerasan dalam hubungan tidak hanya berkaitan dengan tindakan fisik, tetapi juga dapat mencakup pola kontrol dan tekanan psikologis yang berdampak serius terhadap korban.
Meski demikian, Cleveland Clinic mengingatkan bahwa trauma bonding bukan diagnosis resmi dalam sistem klasifikasi gangguan mental. Istilah tersebut lebih tepat digunakan untuk membantu memahami pola keterikatan yang dapat muncul dalam hubungan abusif, sehingga seseorang tidak seharusnya langsung diberi label hanya karena sulit meninggalkan hubungan yang bermasalah.
Memahami trauma bonding juga penting agar masyarakat tidak terburu-buru menyalahkan korban dengan pertanyaan seperti mengapa mereka tidak segera pergi. Penelitian dalam Journal of Psychiatric Research menunjukkan bahwa korban kekerasan pasangan dapat mengalami keterikatan yang kuat terhadap pelaku sebagai bagian dari respons terhadap pengalaman kekerasan, sementara kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan tekanan psikologis dan gejala depresi.
Pada akhirnya, sulitnya seseorang meninggalkan hubungan abusif tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan kurangnya keberanian atau ketegasan. Cleveland Clinic menekankan pentingnya dukungan dari orang yang dipercaya dan bantuan profesional untuk memahami pola hubungan tersebut, terutama ketika terdapat kekerasan, ancaman, isolasi, atau kontrol yang membuat korban merasa tidak memiliki pilihan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....