Mengenal Gaslighting dan Dampaknya bagi Korban

  • 15 Agt 2026 01:39 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - American Psychological Association (APA) mendefinisikan gaslighting sebagai bentuk manipulasi psikologis yang membuat seseorang mempertanyakan ingatan, persepsi, atau penilaiannya sendiri. Istilah ini banyak digunakan untuk menggambarkan pola interaksi ketika seseorang secara terus-menerus menyangkal atau memutarbalikkan pengalaman pihak lain hingga korban mulai meragukan apa yang sebenarnya terjadi.

APA Dictionary of Psychology menjelaskan bahwa gaslighting dapat terjadi melalui berbagai bentuk komunikasi, termasuk menyangkal kejadian yang sebenarnya dialami seseorang atau mempertanyakan kemampuan orang tersebut dalam mengingat suatu peristiwa. Jika berlangsung berulang kali, pola komunikasi semacam ini dapat membuat seseorang semakin tidak yakin terhadap dirinya sendiri.

Cleveland Clinic menyebut gaslighting sebagai salah satu bentuk manipulasi emosional yang dapat muncul dalam berbagai jenis hubungan, termasuk hubungan pasangan, keluarga, pertemanan, maupun lingkungan kerja. Ciri yang perlu diperhatikan bukan hanya satu pernyataan yang berbeda dari kenyataan, tetapi pola berulang yang membuat seseorang terus mempertanyakan perasaan, ingatan, dan persepsinya sendiri.

Dalam sejumlah situasi, orang yang mengalami gaslighting dapat mulai meminta maaf atas hal-hal yang sebenarnya bukan kesalahannya atau merasa perlu terus-menerus membuktikan bahwa ingatannya benar. Cleveland Clinic juga mencatat bahwa pola tersebut dapat berpengaruh terhadap kepercayaan diri dan kesehatan emosional seseorang, terutama apabila berlangsung dalam hubungan yang dekat dan sulit ditinggalkan.

National Domestic Violence Hotline menempatkan gaslighting dalam konteks perilaku yang dapat digunakan untuk mempertahankan kekuasaan dan kontrol terhadap pasangan. Dalam hubungan yang penuh kekerasan atau kontrol, pelaku dapat menggunakan penyangkalan, menyalahkan korban, maupun memutarbalikkan kejadian untuk membuat korban mempertanyakan dirinya sendiri.

Meski demikian, American Psychological Association menekankan pentingnya membedakan istilah gaslighting dari sekadar perbedaan pendapat atau kesalahan mengingat suatu kejadian. Seseorang yang memiliki ingatan berbeda atau tidak sepakat dengan orang lain belum tentu sedang melakukan gaslighting, karena yang menjadi perhatian adalah adanya pola manipulasi yang membuat pihak lain kehilangan kepercayaan terhadap persepsinya sendiri.

Cleveland Clinic menyarankan agar seseorang yang merasa terus-menerus dibuat meragukan dirinya sendiri memperhatikan pola hubungan tersebut dan mencari dukungan dari orang yang dipercaya. Mencatat kejadian, menjaga hubungan dengan lingkungan sosial yang suportif, serta berkonsultasi dengan tenaga profesional dapat menjadi langkah untuk membantu seseorang memahami situasi yang sedang dihadapinya.

Gaslighting pada akhirnya bukan sekadar persoalan seseorang berkata benar sementara orang lain berkata salah. National Domestic Violence Hotline menekankan bahwa persoalan utamanya adalah pola manipulasi yang dapat mengikis rasa percaya diri dan kemampuan seseorang dalam mempercayai pengalaman dirinya sendiri, sehingga mengenali pola tersebut menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang sehat dan saling menghargai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....