Mengenal Stockholm Syndrome, saat Korban Terikat Pelaku
- 15 Agt 2026 02:06 WIB
- Cirebon
Poin Utama
- Stockholm syndrome adalah respons emosional yang dapat muncul ketika seseorang berada dalam situasi penyanderaan atau ancaman berat, ditandai dengan simpati dan keterikatan korban terhadap pelakunya.
- Kondisi ini terjadi karena korban berada dalam situasi penuh tekanan dan ketidakberdayaan, sehingga perhatian kecil dari pelaku dipersepsikan sebagai sesuatu yang sangat berarti.
- Cleveland Clinic menjelaskan bahwa respons ini merupakan salah satu cara seseorang menghadapi kondisi traumatis dan mempertahankan rasa aman ketika berada di bawah kendali pihak lain.
RRI.CO.ID, Cirebon - American Psychological Association (APA) menjelaskan Stockholm syndrome sebagai respons emosional yang dapat muncul ketika seseorang berada dalam situasi penyanderaan atau ancaman berat, hingga korban menunjukkan simpati, kesetiaan, bahkan keterikatan terhadap orang yang menahannya. Kondisi tersebut menarik perhatian karena posisi korban dan pelaku seolah mengalami perubahan secara psikologis, meskipun korban sebenarnya berada dalam situasi penuh tekanan dan ketidakberdayaan.
Cleveland Clinic menyebut respons tersebut dapat dipahami sebagai salah satu cara seseorang menghadapi kondisi traumatis dan mempertahankan rasa aman ketika berada di bawah kendali pihak lain. Dalam keadaan tertentu, perhatian kecil atau perlakuan yang dianggap baik dari pelaku dapat dipersepsikan korban sebagai sesuatu yang sangat berarti karena terjadi di tengah ancaman dan ketakutan yang terus berlangsung.
Office of Justice Programs Amerika Serikat, melalui arsip FBI Law Enforcement Bulletin, mencatat istilah Stockholm syndrome berawal dari peristiwa perampokan bank di Stockholm, Swedia, pada 1973. Dalam kasus tersebut, sejumlah pegawai bank disandera selama beberapa hari dan setelah penyanderaan berakhir, sebagian korban justru menunjukkan sikap yang tidak sepenuhnya bermusuhan terhadap para pelaku.
APA Dictionary of Psychology mencatat bahwa nama Stockholm syndrome berkaitan dengan peristiwa penyanderaan di Stockholm tersebut, sementara istilahnya kemudian diperkenalkan oleh psikiater sekaligus kriminolog Swedia, Nils Bejerot. Fenomena ini kemudian digunakan untuk menggambarkan keadaan ketika korban penyanderaan dapat memiliki perasaan positif terhadap pelaku dan pada saat yang sama menunjukkan sikap negatif terhadap pihak yang berusaha menyelamatkannya.
Cleveland Clinic juga menjelaskan bahwa munculnya respons seperti ini tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang otomatis terjadi pada setiap korban penyanderaan atau kekerasan. Para peneliti masih belum memiliki kesimpulan tunggal mengenai mengapa sebagian orang dapat membangun keterikatan dengan pelaku, sementara korban lain dalam situasi serupa tidak menunjukkan respons tersebut.
Penelitian yang dipublikasikan dalam European Journal of Psychotraumatology turut menyoroti keterbatasan bukti empiris mengenai Stockholm syndrome sebagai sebuah fenomena yang dapat dijelaskan secara konsisten. Kajian tersebut menyebut bahwa penggunaan istilah Stockholm syndrome untuk menggambarkan keterikatan emosional korban dengan pelaku masih menghadapi persoalan konseptual dan ilmiah, sehingga diperlukan kehati-hatian ketika istilah itu digunakan untuk menjelaskan pengalaman korban trauma.
Cleveland Clinic menegaskan bahwa Stockholm syndrome tidak termasuk kondisi yang secara resmi tercantum sebagai diagnosis dalam pedoman diagnostik utama American Psychiatric Association. Karena itu, pendekatan terhadap korban sebaiknya tidak berhenti pada pemberian label, tetapi lebih diarahkan pada pemahaman terhadap trauma, rasa takut, ketergantungan, serta kebutuhan korban untuk mendapatkan keamanan dan dukungan psikologis.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....