Mengapa Bare Minimum Sering Dianggap Sebagai Green Flag

  • 08 Agt 2026 12:47 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID - Cirebon Tingginya angka perceraian di Indonesia kini menjadi perhatian serius, terutama bagi pasangan muda yang baru membangun rumah tangga. Berdasarkan data nasional, tercatat sebanyak 463 ribu kasus perceraian terjadi dalam kurun waktu satu tahun, di mana 53,8% di antaranya dipicu oleh perselisihan dan pertengkaran yang terjadi secara terus-menerus.

Konflik rumah tangga ini kerap kali timbul bukan karena masalah yang mendadak muncul setelah akad, melainkan karena kegagalan mengenali sinyal dan karakter pasangan sejak masa sebelum menikah. Persoalan mendasar yang sering terjadi dalam tahap penjajakan adalah ketidakmampuan calon pasangan dalam membedakan antara kewajiban dasar (bare minimum), karakter positif (green flag), dan sinyal bahaya (red flag).

Hal ini disampaikan oleh Kak Agnie (29), salah satu Relationship Coach dimana menurutnya, banyak orang cenderung mengagungkan perilaku paling dasar sebagai bentuk kebaikan luar biasa. Di sisi lain, tanda-tanda perilaku beracun atau red flag justru sering dimaklumi dengan harapan bahwa karakter pasangan dapat berubah secara otomatis setelah resmi menikah.

“Banyak pasangan yang salah mengartikan tanggung jawab dasar sebagai sebuah kebaikan yang luar biasa. Padahal, ada batasan yang sangat jelas antara standar minimal dengan karakter yang memang sehat untuk jangka panjang,” ujar Kak Agnie kepada RRISabtu (25/7/2026).

Fenomena ini makin rumit ketika seseorang yang memiliki kecenderungan hopeless romantic terjebak dalam rasa cinta yang subjektif. Dorongan untuk mendapatkan hubungan idaman kerap membuat seseorang menutup mata (blind) terhadap sinyal-sinyal bahaya pada diri pasangan. Berdasarkan Social Exchange Theory dari John Thibaut & Harold Kelley, seseorang menilai suatu hubungan berdasarkan pengalaman masa lalu, standar pribadi, serta pola hubungan di keluarga.

Akibatnya, perlakuan sederhana yang sebenarnya merupakan kewajiban dasar kerap kali disalahartikan sebagai tanda keunggulan pasangan. Kak Agnie menjelaskan bahwa kecenderungan ini sering dipicu oleh pengalaman relasi masa lalu.

“Ketika seseorang pernah berada di hubungan yang toksik, perlakuan biasa seperti tidak membentak atau tidak berselingkuh bisa dianggap sebagai kebaikan yang sangat istimewa. Padahal itu baru tahap dasar,” jelasnya.

Lebih lanjut Kak Agnie juga membagikan sinyal relasi dimana dalam paparannya, ia mengatakan bahwa ada tiga kategori utama untuk memudahkan calon pasangan dalam menilai:

1. Bare Minimum (Standar Dasar Relasi)

Tanggung jawab moral dan kewajiban paling dasar yang wajib dimiliki seseorang dalam berinteraksi sebagai manusia yang sehat. Berkata jujur, tidak berselingkuh, tidak main fisik atau membentak, serta mau mengakui kesalahan dan meminta maaf. Ini bukan nilai bonus atau pencapaian luar biasa, melainkan syarat batas aman sebelum memulai sebuah hubungan.

2. Green Flag (Sinyal Pertumbuhan)

Karakter positif dan matang yang konsisten, berorientasi pada masa depan, serta membuat hubungan berkembang dengan sehat. Memiliki kontrol emosi yang stabil, mau belajar dari kesalahan, tidak egois saat diskusi, serta terbuka menerima masukan (feedback). Kehadiran sinyal ini menciptakan rasa aman secara psikologis (psychological safety) dan mendukung potensi pasangan.

3. Red Flag (Sinyal Bahaya)

Pola perilaku toksik dan merusak yang menunjukkan ketidakmatangan emosi serta ketidakmampuan berelasi secara sehat. Bersikap manipulatif (gaslighting), pemarah, suka mengontrol/mengekang, serta selalu kabur dari tanggung jawab. Jika perilaku ini muncul sebagai pola berulang, ini adalah lampu merah mutlak dan tidak boleh dimaklumi hanya demi mempertahankan hubungan.

Terkait dengan 3 hal tersebut lebih lanjut, Kak Agnie juga menegaskan bahwa betapa pentingnya kecermatan dalam mengevaluasi pola perilaku pasangan sebelum memutuskan untuk berkomitmen jangka panjang. Penilaian terhadap calon pasangan tidak boleh hanya didasarkan pada satu peristiwa sesaat, melainkan harus melihat pola yang berulang secara konsisten.

Kebiasaan memaklumi perilaku pemarah atau manipulatif demi mempertahankan hubungan justru menjadi bom waktu yang dapat memicu konflik berkelanjutan di kemudian hari.

“Tidak semua orang baik adalah pasangan yang tepat, dan tidak semua perlakuan baik adalah tanda hubungan yang sehat. Cinta tidak seharusnya membuat kita mengabaikan pola perilaku yang dapat melukai di kemudian hari,” tuturnya.

Sebagai langkah pencegahan, setiap individu disarankan untuk menentukan standar pasangan secara jelas melalui tiga kategori: non-negotiable (hal mutlak yang tidak bisa ditawar seperti kejujuran dan komitmen anti-kekerasan), negotiable (hal yang masih dapat didiskusikan seperti pekerjaan dan pendidikan), serta preferensi (nilai tambah seperti hobi dan penampilan fisik).

Pada akhirnya, keputusan untuk menikah harus didasari oleh kesadaran atas karakter yang baik, pola hubungan yang sehat, serta komitmen kedua belah pihak untuk bertumbuh bersama, bukan karena rasa takut kesepian atau sekadar terlanjur nyaman.

(Sumber : Rara Iftinannaurah_Unsoed)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....