Sains dan Ikhtiar: Menakar Masa Depan Pengobatan Presisi di Era Longevity

  • 01 Jul 2026 06:51 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Dalam belantara dunia kesehatan, kita kerap terjebak dalam perdebatan mengenai metode penyembuhan. Sejak dahulu, persaingan antara berbagai mazhab pengobatan—mulai dari kearifan tabib tradisional, praktik holistik, hingga teknologi kedokteran spesialis yang semakin mutakhir—telah membentuk dinamika yang kompleks. Industri farmasi, termasuk yang kini merambah ke ranah biologi sel, juga terus berkembang dan kerap bersinggungan dengan berbagai pendekatan pengobatan akibat perbedaan cara pandang serta strategi dalam mencapai kesembuhan.

Memahami Musuh Tersembunyi: Inflammaging

Dunia medis kini menyoroti inflammaging, yakni kondisi ketika inflamasi yang seharusnya menjadi respons akut tubuh terhadap cedera atau infeksi berubah menjadi peradangan kronis karena tidak kunjung mereda. Kondisi ini ditandai oleh peningkatan kadar penanda inflamasi, seperti interleukin-6 (IL-6) dan C-reactive protein (CRP), yang berlangsung secara persisten. Inflammaging terbukti meningkatkan risiko berbagai penyakit degeneratif, seperti penyakit kardiovaskular, diabetes melitus tipe 2, hingga penyakit Alzheimer.

Penyebab inflammaging sangat kompleks, antara lain:

Penuaan Sel (Cellular Senescence)

Sel-sel yang mengalami kerusakan akan menumpuk dan melepaskan sinyal inflamasi yang mengganggu jaringan di sekitarnya. Salah satu cara mengatasinya adalah dengan berolahraga secara teratur untuk mendukung proses pembersihan sel oleh sistem kekebalan tubuh.

Disfungsi Mikrobioma Usus

Perubahan yang terjadi seiring bertambahnya usia dapat memicu kebocoran usus (leaky gut). Kesehatan usus dapat ditingkatkan melalui pola makan tinggi serat dan konsumsi makanan fermentasi guna mendukung keberagaman mikrobioma.

Penumpukan Lemak Viseral

Lemak viseral menghasilkan sitokin proinflamasi yang memicu disfungsi metabolik. Sensitivitas insulin perlu ditingkatkan melalui pola makan bergizi, aktivitas aerobik, serta latihan kekuatan (resistance training).

Stres Oksidatif

Stres oksidatif dipicu oleh disfungsi mitokondria maupun stres psikologis. Oleh karena itu, manajemen stres serta tidur selama 7–9 jam setiap malam menjadi faktor penting dalam menjaga regulasi sistem kekebalan tubuh.

Teknologi dan Masa Depan Pengobatan Presisi

Sebagai praktisi biomedis, saya meyakini bahwa masa depan pelayanan kesehatan tidak lagi bertumpu pada konsep one drug for all. Tubuh manusia memiliki karakteristik yang unik, layaknya sidik jari, sehingga terapi harus dipersonalisasi sesuai kebutuhan masing-masing individu.

Di RSI Sultan Agung, kami mengembangkan layanan Sultan Longevity di Poliklinik Eksekutif yang mengintegrasikan pendekatan biomedis presisi dengan metodologi BiSQuAT.

Kami juga memanfaatkan berbagai inovasi teknologi untuk memantau kesehatan melalui pendekatan gamifikasi gaya hidup (gamify your lifestyle), di antaranya:

InsideTracker, yang menggabungkan analisis darah dan DNA untuk memberikan rekomendasi kesehatan berbasis sains yang dipersonalisasi.

TruDiagnostic, yakni pemeriksaan metilasi DNA untuk memberikan gambaran mengenai usia biologis dan proses penuaan secara lebih personal.

Levels, sistem Continuous Glucose Monitoring (CGM) yang memungkinkan pemantauan respons glukosa tubuh secara real-time.

Selain itu, senyawa senolitik kini berkembang sebagai salah satu terobosan dalam penelitian penuaan. Senyawa ini bekerja secara selektif membersihkan sel-sel senesen (senescent cells) sehingga menandai pergeseran paradigma dari sekadar mengelola gejala menuju upaya menargetkan akar penyebab penuaan pada tingkat sel.

Kesembuhan: Titik Temu Ikhtiar dan Ketetapan

Statistik menunjukkan bahwa pada 2030, satu dari enam penduduk dunia akan berusia 60 tahun ke atas. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa banyak orang dewasa memiliki kesenjangan antara usia biologis dan usia kronologis hingga 5–7 tahun. Sementara itu, peradangan kronis tingkat rendah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular hingga dua sampai tiga kali lipat, sekaligus meningkatkan risiko kematian dini.

Namun, di balik seluruh kemajuan teknologi tersebut, tidak ada satu pun metode pengobatan yang bersifat absolut. Ilmu kedokteran pada hakikatnya merupakan ikhtiar manusia yang terus berkembang. Pengobatan adalah perjalanan manusia dalam menjemput ketetapan Sang Pencipta.

Teknologi, inovasi, dan kepakaran hanyalah sarana (wasilah). Sebagai manusia, tugas kita adalah terus berikhtiar melalui sains yang berlandaskan etika, sembari bertawakal bahwa hasil akhirnya merupakan hak prerogatif Allah SWT, Sang Maha Menyembuhkan. Perbedaan pendekatan dalam dunia pengobatan hendaknya dipandang sebagai kekayaan cara manusia dalam mencari ilmu dan menghadirkan kemaslahatan, bukan semata-mata sebagai arena persaingan, melainkan sebagai ikhtiar bersama dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang semakin baik bagi umat manusia.

Penulis : dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B, Dokter Spesialis Bedah, Praktisi Biomedis, Founder Sultan Longevity Center RSI Sultan Agung Semarang, penggagas layanan Sultan Longevity di Poliklinik Eksekutif RSI Sultan Agung, serta pemerhati pengembangan pengobatan presisi (precision medicine), biologi penuaan (longevity medicine), dan kesehatan preventif berbasis sains.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....