Benarkah Ikan Sapu-Sapu Beracun? Ini Penjelasan Ilmiahnya

  • 30 Jun 2026 21:33 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Ikan sapu-sapu kerap menjadi perbincangan masyarakat karena disebut-sebut beracun dan tidak layak dikonsumsi. Namun, benarkah anggapan tersebut? Berdasarkan berbagai kajian ilmiah, ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys spp.) pada dasarnya bukan termasuk ikan yang memiliki racun alami seperti ikan buntal. Meski demikian, ada kondisi tertentu yang membuat ikan ini berpotensi membahayakan kesehatan jika dikonsumsi. Hal ini menjadi perhatian para peneliti dan ahli perikanan.

Ikan sapu-sapu merupakan spesies ikan air tawar yang banyak ditemukan di sungai, danau, hingga saluran irigasi di Indonesia. Siapa yang terdampak? Masyarakat yang menangkap dan mengonsumsi ikan ini perlu memahami risiko yang mungkin muncul.Fenomena ini banyak dijumpai di berbagai perairan Indonesia yang telah terpapar limbah. Kapan? Risiko muncul ketika ikan hidup di lingkungan yang tercemar dan kemudian dikonsumsi manusia.

Menurut para ahli, anggapan tersebut lebih berkaitan dengan kemampuan ikan ini mengakumulasi berbagai zat pencemar dari lingkungan, seperti logam berat, dibandingkan karena memiliki racun alami. Sebagai ikan dasar (bottom feeder), sapu-sapu mencari makan di dasar perairan yang sering menjadi tempat mengendapnya limbah. Akibatnya, tubuh ikan dapat menyerap zat berbahaya apabila hidup di perairan yang tercemar.

Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menjelaskan bahwa ikan yang hidup di perairan tercemar dapat mengalami bioakumulasi logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium. Jika dikonsumsi dalam jumlah tertentu dan dalam jangka panjang, zat-zat tersebut berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan pada manusia. Karena itu, keamanan konsumsi sangat bergantung pada kualitas habitat tempat ikan tersebut hidup.

Sementara itu, para peneliti dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta sejumlah perguruan tinggi di Indonesia juga pernah mengingatkan bahwa ikan sapu-sapu yang berasal dari sungai dengan tingkat pencemaran tinggi sebaiknya tidak dikonsumsi sebelum diketahui kandungan logam beratnya. Sebaliknya, ikan yang dibudidayakan atau berasal dari perairan yang bersih memiliki risiko yang jauh lebih rendah.

Meski demikian, belum ada bukti ilmiah yang menyatakan seluruh ikan sapu-sapu beracun. Penilaian harus didasarkan pada hasil uji laboratorium terhadap kualitas air dan kandungan zat berbahaya di dalam daging ikan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak langsung mempercayai informasi yang menyebut ikan sapu-sapu selalu beracun tanpa melihat kondisi lingkungan tempat ikan tersebut berasal.

Sebagai langkah pencegahan, para ahli menyarankan masyarakat menghindari konsumsi ikan yang ditangkap dari sungai atau saluran air yang diduga tercemar limbah industri maupun rumah tangga. Memilih ikan dari sumber yang jelas dan perairan yang bersih tetap menjadi cara terbaik untuk menjaga keamanan pangan dan kesehatan keluarga.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....