Vaksinasi Menurun, Tetanus Kirim Sinyal Ancaman

  • 06 Jun 2026 08:43 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Kisah klasik tentang infeksi bakteri tetanus akibat tertusuk paku berkarat di area pertanian kini bukan lagi sekadar mitos masa lalu yang bisa diabaikan masyarakat modern. Data medis menunjukkan bahwa infeksi sistem saraf yang dipicu bakteri Clostridium Tetani ini mengalami lonjakan signifikan dengan mencatat 38 kasus di Amerika Serikat.

Dilansir dari Nationalgeographic.com, Sabtu, 6 Juni 2026, tren mengkhawatirkan tersebut diungkapkan oleh Larry Madoff, seorang pakar penyakit menular dari Center on Emerging Infectious Diseases di Boston University, melalui laporan resminya. Ia menegaskan bahwa peningkatan fatalitas ini sangat disayangkan karena penyakit mematikan tersebut sebetulnya dapat dicegah secara total melalui imunisasi.

Bakteri tetanus yang mematikan ini hidup subur di tanah tanpa oksigen dan masuk ke tubuh melalui luka tusuk, gigitan anjing, hingga serpihan kayu yang dalam. Setelah masuk, spora bakteri memproduksi racun kuat bernama tetanosmasmin yang merusak sistem saraf, memicu kekakuan rahang (lockjaw), hingga menyebabkan gagal ginjal.

Kristin Moffitt, dokter spesialis penyakit menular anak di Boston’s Children Hospital, mengingatkan bahwa hilangnya memori publik akan keganasan penyakit ini membuat tingkat kewaspadaan masyarakat menurun tajam. Padahal secara global, infeksi mikroba berbahaya ini masih merenggut sekitar 50.000 nyawa setiap tahunnya termasuk kelompok lansia di atas 70 tahun.

Hingga saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan racun tetanus secara instan selain perawatan suportif berminggu-minggu menggunakan antibiotik dan alat bantu napas. Laporan Boston University juga mencatat beban finansial yang sangat besar akibat perawatan intensif ini, seperti yang dialami sebuah keluarga di Oregon dengan tagihan medis mencapai satu juta dolar.

Ironisnya, pusat pengendalian penyakit (CDC) melaporkan bahwa seluruh pasien yang terinfeksi di tahun tersebut memiliki kesamaan, yaitu tidak melengkapi barisan dosis vaksinasi DTaP, Tdap, atau Td mereka. Fenomena penolakan imunisasi oleh orang tua membuat banyak anak-anak harus berjuang di ruang perawatan intensif akibat luka kecil yang awalnya dianggap sepele.

Penurunan persentase capaian vaksinasi dasar pada anak-anak di wilayah seperti Florida kini menjadi fokus perhatian serius dari para pengamat kesehatan masyarakat setempat. Melalui analisis Stanford University dan NBC News, ditemukan bahwa hampir 70 persen wilayah administrasi di Amerika Serikat memiliki siswa yang melewatkan jadwal imunisasi wajib mereka.

Padahal, Emily Senerth selaku pakar kesehatan masyarakat dari University of Minnesota menegaskan bahwa keamanan vaksin ini telah teruji sangat aman bagi anak-anak hingga ibu hamil. Larry Madoff pun berharap ingatan kolektif masyarakat akan mengerikannya bangsal khusus tetanus di masa lalu dapat memicu kesadaran untuk tidak lagi mengabaikan suntikan imunisasi berkala.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....