Jangan Tertipu Rasanya, Kol Goreng Bisa Picu Masalah Kesehatan
- 03 Mei 2026 13:35 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Kenikmatan kol goreng sebagai pelengkap lauk ayam atau lele goreng di warung penyetan pinggir jalan tentu sulit untuk ditolak. Teksturnya yang renyah serta rasanya yang gurih telah lama menjadi primadona yang memanjakan lidah orang Indonesia.
Sayangnya di balik kelezatan seporsi kol goreng, tersimpan risiko kesehatan yang sangat serius. Proses menggoreng kol mengubah sayuran yang seharusnya menyehatkan menjadi sumber penyakit jika dikonsumsi secara rutin atau berlebihan.
Secara alami, kol adalah sayuran rendah kalori yang kaya akan vitamin C, vitamin K, serta senyawa sulforaphane yang memiliki sifat antikanker yang kuat. Namun saat kol bersentuhan dengan minyak panas dalam suhu tinggi, struktur kimianya mengalami perubahan drastis.
Proses ini merusak nutrisi penting yang terkandung di dalamnya dan menggantinya dengan senyawa yang berbahaya bagi tubuh. Salah satu ancaman terbesar muncul dari pembentukan akrilamida akibat suhu penggorengan yang ekstrem.
Menurut International Agency for Research on Cancer (IARC), akrilamida dikategorikan sebagai senyawa yang bersifat karsinogenik atau pemicu kanker. Reaksi kimia antara asam amino dan gula alami dalam kol saat digoreng kering inilah yang memicu munculnya zat berbahaya tersebut.
Selain risiko kanker, kol goreng merupakan musuh utama bagi kesehatan jantung karena kandungan lemaknya yang melonjak tajam. Kol memiliki sifat seperti spons yang sangat efektif menyerap minyak goreng dalam jumlah besar.
Akibatnya, seporsi kol goreng mengandung kalori dan lemak jenuh yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kol yang diolah dengan cara direbus atau dikukus. Masalah ini diperparah dengan penggunaan minyak goreng yang sering kali dipakai berulang kali atau minyak jelantah.
Berdasarkan penelitian dalam The American Journal of Clinical Nutrition, pemanasan minyak secara berulang meningkatkan kadar lemak trans secara signifikan. Konsumsi lemak trans terbukti meningkatkan kolesterol jahat (LDL) dan memicu penyumbatan pembuluh darah yang berujung pada penyakit jantung koroner.
Bagi sistem pencernaan, kol goreng juga dapat menimbulkan gangguan rasa nyaman seperti perut kembung dan begah. Proses penggorengan membuat serat dalam kol menjadi lebih sulit diurai oleh sistem pencernaan, sekaligus memicu produksi gas berlebih di lambung.
Terlalu sulit memang untuk menolak kol goreng dalam menu penyetan kita, namun demi investasi kesehatan jangka panjang sebaiknya mulailah membatasi konsumsi kol goreng dalam menu santapan. Jadikan kol sebagai lalapan mentah atau mengukusnya terlebih dahulu sebelum dikonsumsi agar terbebas dari risiko zat karsinogen dan lemak jahat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....