Ini Penyebab Mengantuk saat Menyetir dan Segar saat Berhenti

  • 29 Apr 2026 09:35 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Banyak pengemudi mengeluhkan rasa kantuk yang luar biasa saat berada di balik kemudi, namun anehnya rasa kantuk tersebut hilang seketika saat kendaraan berhenti atau sampai di tujuan. Kadang sudah mempersiapkan tidur lebih proper di tempat tujuan, namun begitu sampai ditempat tujuan semua kantuk terasa hilang begitu saja.

Fenomena yang sering dianggap remeh ini sebenarnya merupakan hasil dari kombinasi kondisi biologis dan faktor lingkungan kabin yang kompleks bagi para pengendara di jalan raya. Penyebab utama dari rasa kantuk ini seringkali berasal dari "Highway Hypnosis" atau hipnosis jalan raya.

Kondisi ini terjadi ketika pengemudi melewati rute yang monoton atau lurus dalam waktu lama, sehingga otak masuk ke mode "autopilot". Akibat minimnya stimulasi visual yang bervariasi, tingkat kesadaran seseorang menurun drastis meskipun mata tetap menatap ke arah depan jalan.

Selain faktor psikologis, kualitas udara di dalam kabin mobil juga memegang peranan penting. Penggunaan AC dengan mode sirkulasi tertutup dalam durasi lama menyebabkan penumpukan karbon dioksida (CO2) dari hasil pernapasan penumpang.

Tingginya kadar CO2 di ruang sempit tersebut secara perlahan mengurangi pasokan oksigen ke otak, yang secara otomatis memicu rasa kantuk dan kelelahan mental. Faktor fisik berupa getaran kendaraan juga menjadi pemicu yang jarang disadari oleh banyak orang.

Getaran halus dengan frekuensi rendah yang dihasilkan oleh mesin dan pergerakan roda di aspal memiliki efek sedatif atau menenangkan pada sistem saraf manusia. Hal ini mirip dengan efek ayunan pada bayi yang dirancang untuk merelaksasi tubuh dan memancing keinginan untuk tidur.

Menariknya, rasa segar yang muncul saat mobil berhenti bukanlah tanda bahwa tubuh sudah bugar kembali. Ketika pengemudi memutuskan untuk menepi atau membuka pintu, tubuh mengalami lonjakan adrenalin secara tiba-tiba sebagai respon terhadap perubahan aktivitas.

Transisi dari duduk diam menjadi bergerak secara fisik mengirimkan sinyal "waspada" ke sistem saraf pusat yang memberikan energi instan. Selain adrenalin, adanya perubahan sensorik seperti paparan suhu udara luar yang berbeda dan pemandangan yang lebih dinamis bertindak sebagai tombol "reset" bagi otak.

Pasokan oksigen segar yang masuk saat pintu atau jendela dibuka membantu menjernihkan pikiran yang sebelumnya tumpul. Namun, para ahli mengingatkan bahwa rasa segar ini bersifat sementara dan seringkali hanya menutupi kelelahan yang sebenarnya masih ada.

Untuk meminimalisir risiko kecelakaan, para pakar keselamatan berkendara menyarankan pengemudi untuk mengatur sirkulasi udara di dalam mobil agar oksigen tetap terjaga. Selain itu, melakukan peregangan kecil atau mengalihkan pandangan ke berbagai sudut setiap beberapa menit dapat membantu menjaga otak tetap aktif selama perjalanan panjang dan menghindari jebakan hipnosis jalan raya yang mematikan.

Langkah paling efektif tetaplah beristirahat secara total apabila rasa kantuk sudah tidak tertahankan lagi, tidur singkat atau "power nap" selama 15 hingga 20 menit di area peristirahatan jauh lebih aman daripada memaksakan diri berkendara dengan mengandalkan rasa segar semu. Kesadaran akan keterbatasan tubuh menjadi kunci utama dalam menjaga keselamatan diri dan pengguna jalan lainnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....