Limerence: saat Jatuh Cinta Berubah Jadi Obsesi Diam-Diam
- 07 Apr 2026 07:48 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Banyak orang pernah merasakan jatuh cinta. Perasaan ini biasanya membuat seseorang merasa bahagia, bersemangat, dan ingin selalu dekat dengan orang yang disukai. Namun dalam dunia psikologi, ada kondisi yang lebih intens dari sekadar jatuh cinta biasa. Kondisi ini disebut limerence.
Limerence adalah istilah psikologi yang menggambarkan keadaan ketika seseorang mengalami perasaan cinta yang sangat kuat dan cenderung obsesif terhadap orang lain. Perasaan ini biasanya disertai dengan keinginan yang sangat besar untuk mendapatkan balasan perasaan yang sama.
Dilansir dari verywellmind, istilah limerence pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Amerika, Dorothy Tennov, pada tahun 1979 dalam bukunya Love and Limerence: The Experience of Being in Love. Tennov menjelaskan bahwa limerence bukan sekadar rasa suka, tetapi kondisi emosional yang sangat intens.
Orang yang mengalami limerence biasanya sering memikirkan orang yang disukainya hampir sepanjang waktu. Pikiran tentang orang tersebut bisa muncul berulang kali tanpa disengaja. Bahkan aktivitas sehari-hari pun bisa terganggu karena perhatian terus tertuju pada orang tersebut.
Selain itu, limerence juga sering ditandai dengan perasaan sangat senang ketika mendapat perhatian kecil dari orang yang disukai. Misalnya pesan singkat, senyuman, atau sekadar sapaan sederhana bisa membuat perasaan sangat bahagia. Sebaliknya, ketika tidak mendapatkan respons yang diharapkan, seseorang bisa merasa sangat cemas atau sedih.
Salah satu ciri khas limerence adalah adanya harapan kuat bahwa perasaan tersebut akan terbalas. Harapan ini sering membuat seseorang terus memikirkan kemungkinan hubungan dengan orang yang disukai, bahkan ketika belum tentu ada tanda bahwa perasaan itu saling berbalas.
Fenomena ini sering terjadi pada tahap awal ketertarikan romantis. Namun pada limerence, intensitas emosinya jauh lebih kuat dibandingkan ketertarikan biasa. Perasaan ini bahkan bisa terasa seperti ketergantungan emosional.
Menariknya, dalam beberapa penelitian psikologi ditemukan bahwa limerence berkaitan dengan aktivitas kimia di otak. Ketika seseorang jatuh cinta, otak melepaskan zat seperti dopamin yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan. Inilah yang membuat seseorang merasa sangat bahagia ketika memikirkan orang yang disukai.
Namun jika perasaan tersebut terlalu intens, seseorang bisa mengalami kecemasan yang berlebihan. Pikiran terus-menerus tentang orang yang disukai dapat membuat seseorang sulit fokus pada hal lain.
Meski terdengar seperti sesuatu yang negatif, limerence sebenarnya adalah pengalaman emosional yang cukup umum. Banyak orang mengalaminya pada fase tertentu dalam kehidupan, terutama ketika sedang jatuh cinta untuk pertama kali atau mengalami ketertarikan yang sangat kuat.
Yang membedakan limerence dengan cinta yang sehat adalah tingkat obsesi dan ketergantungan emosionalnya. Dalam hubungan yang sehat, perasaan cinta biasanya disertai rasa saling menghargai dan keseimbangan emosional.
Sementara itu, pada limerence seseorang bisa terlalu fokus pada orang yang disukai hingga mengabaikan kebutuhan emosional dirinya sendiri.
Memahami fenomena ini dapat membantu seseorang mengenali perasaannya dengan lebih baik. Ketika seseorang menyadari bahwa perasaannya mulai terlalu obsesif, ia bisa mencoba menjaga keseimbangan emosional dengan tetap fokus pada kehidupan pribadi, pekerjaan, dan hubungan sosial lainnya.
Pada akhirnya, limerence menunjukkan bahwa emosi manusia sangat kompleks. Perasaan cinta yang tampak sederhana ternyata memiliki berbagai bentuk dan intensitas yang berbeda dalam pengalaman psikologis manusia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....