Dokter Bedah Kini Tak Selalu Pilih Operasi Terbuka, Ini Alasannya

  • 05 Apr 2026 18:51 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Kuningan - Pandangan masyarakat yang kerap mengaitkan dokter bedah dengan tindakan operasi terbuka mulai bergeser seiring perkembangan teknologi medis. Dokter bedah modern kini tidak selalu menjadikan pisau sebagai pilihan utama dalam penanganan pasien.

Ketua Umum Perkumpulan Dokter Spesialis Bedah Digestif Indonesia (PREDIGTI) sekaligus Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang, Dr. dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa., menjelaskan bahwa keputusan dalam dunia bedah justru lebih kompleks dibanding sekadar tindakan operasi.

“Beban terberat seorang dokter bedah bukan saat melakukan operasi, melainkan saat menentukan kapan pasien harus dioperasi dan kapan operasi justru harus dihindari,” ujarnya saat dihubungi RRI pada Minggu, 5 April 2026.

Ia menuturkan, dokter bedah masa kini dituntut memiliki pemahaman menyeluruh, tidak hanya soal teknik pembedahan, tetapi juga kondisi sistemik pasien seperti fungsi jantung, paru, hingga metabolisme tubuh.

“Sebagai ‘internis berpisau’, kami harus menganalisis apakah tubuh pasien mampu menahan trauma pembedahan. Keputusan untuk tidak melakukan operasi terbuka sering kali merupakan bentuk keahlian tertinggi demi keselamatan pasien,” kata Dokter Agus.

Menurutnya, tujuan utama tindakan bedah bukan sekadar mengangkat bagian tubuh yang sakit, melainkan memperbaiki struktur anatomi agar fungsi tubuh kembali normal.

Seiring kemajuan teknologi, metode penanganan pun semakin berkembang. Salah satunya adalah teknik minimal invasif seperti laparoskopi dan endoskopi yang hanya membutuhkan sayatan kecil.

“Melalui lubang kecil, kami bisa memperbaiki organ dengan bantuan kamera digital. Pemulihan pasien jauh lebih cepat dan nyeri yang dirasakan lebih minimal,” ucapnya menjelaskan.

Selain itu, terdapat pula intervensi non-bedah seperti penggunaan gelombang kejut atau kateter untuk menangani batu ginjal maupun sumbatan pembuluh darah tanpa sayatan.

Perkembangan lain yang kini mulai diterapkan adalah terapi berbasis sel atau biomolekuler. Metode ini memanfaatkan kemampuan regeneratif tubuh pasien sendiri untuk memperbaiki jaringan yang rusak.

“Alih-alih memotong jaringan, kami menggunakan terapi sel seperti stem cell atau secretome untuk merangsang tubuh menyembuhkan dirinya sendiri. Ini adalah bentuk operasi biologis yang minim trauma namun hasilnya sangat signifikan,” ujarnya mengungkapkan.

Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan hanya karena takut operasi. Menurutnya, deteksi dini justru membuka peluang penanganan yang lebih ringan dan efektif.

“Jangan takut menemui dokter bedah. Semakin cepat ditangani, semakin besar kemungkinan pasien mendapatkan terapi yang lebih ringan, cepat, dan tepat,” katanya.

Dengan pendekatan berbasis teknologi dan filosofi penanganan cepat dan cerdas, dunia bedah kini diarahkan untuk memberikan solusi yang lebih aman serta meningkatkan kualitas hidup pasien secara menyeluruh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....