Prolonged Grief Disorder, Apakah Itu?
- 25 Mar 2026 07:35 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Duka yang tidak kunjung mereda seiring berjalannya waktu kini secara resmi dikenal sebagai Prolonged Grief Disorder (PGD). Katherine Shear dari Columbia University menjelaskan bahwa kondisi ini muncul ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk beradaptasi dan menerima kenyataan pahit atas kehilangan tersebut.
Dilansir dari Nationalgeographic.com, penelitian terbaru dalam jurnal Trends in Neurosciences tahun 2026 mengungkapkan adanya gangguan pada sistem keterikatan dan imbalan di otak. Richard Bryant menyatakan bahwa otak penderita PGD terus memberikan sinyal seolah-olah orang yang dicintai masih bisa dijangkau atau akan segera kembali.
Mary-Frances O'Connor menjelaskan bahwa pada duka akut yang normal, rasa rindu akan berkurang dan penerimaan akan meningkat seiring berjalannya waktu. Namun, bagi penderita PGD, otak tetap menunjukkan ekspektasi imbalan yang tinggi saat melihat foto orang yang telah tiada, mirip dengan perasaan saat mereka masih hidup.
Holly Prigerson dari Weill Cornell Medicine menyebutkan bahwa kondisi kronis ini ditandai dengan perasaan hampa serta identitas diri yang terguncang hebat. PGD secara resmi didiagnosis apabila gejala-gejala berat tersebut menetap selama lebih dari dua belas bulan setelah peristiwa kematian terjadi.
Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kesehatan mental, tetapi juga berdampak buruk pada fisik seperti gangguan tekanan darah dan sistem imun. Tubuh penderita sering kali terjebak dalam respons stres yang berkepanjangan sehingga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular serta peradangan kronis yang berbahaya.
Risiko terkena PGD ditemukan lebih tinggi pada kasus kematian yang terjadi secara mendadak atau akibat tindakan kekerasan yang traumatis. Selain itu, faktor ketergantungan emosional yang tinggi terhadap mendiang serta kurangnya dukungan sosial juga menjadi pemicu utama munculnya gangguan ini.
Menariknya, PGD sering kali tidak memberikan respons yang baik terhadap penggunaan obat antidepresan atau psikoterapi standar untuk depresi. Terapi khusus bernama *Prolonged Grief Therapy* sebanyak enam belas sesi menjadi metode utama yang terbukti membantu pasien menerima realitas dan memulihkan kesejahteraan mereka.
Pengakuan PGD dalam panduan medis DSM-5 sejak tahun 2022 telah mempermudah proses diagnosis akurat serta jaminan asuransi bagi para pasien. Dengan penanganan yang tepat, penderita diharapkan dapat menata kembali masa depan mereka tanpa harus terus terjebak dalam bayang-bayang kesedihan masa lalu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....