Ekspedisi Pencarian Kembali Pesawat Amelia Earhart

  • 06 Okt 2026 20:16 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Setelah 90 tahun sejak dana riset penerbangan diberikan, Universitas Purdue kembali mendukung ekspedisi pencarian pesawat Lockheed Electra 10-E milik Amelia Earhart. Pencarian berskala internasional ini digagas bersama Archaeological Legacy Institute (ALI) untuk membedah misteri hilangnya sang penerbang legendaris pada 1937.

Dilansir dari Nationalgeohraphic.com, Selasa 6 Oktober 2026, sebanyak 17 anggota tim ahli dijadwalkan tiba di Pulau Nikumaroro, Kiribati, pada 13 Oktober mendatang untuk menyelidiki area laguna setempat. Misi khusus ini bertujuan memeriksa objek misterius di dasar air yang diduga kuat merupakan bagian utama dari kerangka pesawat Earhart.

Situs pencarian difokuskan pada lokasi bernama Taraia Point setelah ditemukannya citra satelit yang memperlihatkan anomali bentuk bulat dan bergaris di dasar laguna. Temuan citra satelit tahun 2020 oleh peneliti amatir Michael Ashmore tersebut kemudian ditindaklanjuti secara ilmiah oleh tim arkeolog ALI.

Earhart dan navigatornya, Fred Noonan, hilang kontak saat menempuh rute tersulit dari New Guinea menuju Pulau Howland di Samudra Pasifik. Pesan radio terakhir Earhart mengindikasikan bahwa mereka kehabisan bahan bakar dan terbang menyusuri garis navigasi 157-337 untuk mencari daratan.

Teori yang dikembangkan kelompok TIGHAR menyebutkan bahwa pesawat Earhart kemungkinan berhasil mendarat di terumbu karang Pulau Nikumaroro sebelum akhirnya terdorong ombak ke laguna. Sejumlah temuan artefak tahun 1930-an serta analisis riwayat tulang manusia di pulau tersebut semakin memperkuat dugaan keberadaan mereka di sana.

Meskipun citra objek Taraia menuai perdebatan dan skeptisisme dari sebagian peneliti, Presiden ALI Richard Pettigrew meyakini bahwa objek logam tersebut tersisa akibat hempasan badai. Badai Siklon Pam pada tahun 2015 diperkirakan telah menyapu endapan lumpur sehingga memunculkan kembali bentuk fisik objek ke permukaan.

Universitas Purdue memberikan dukungan nyata berupa fasilitas pinjaman dana senilai 500.000 dolar AS serta bantuan teknis dan media untuk ekspedisi ini. Keterlibatan Purdue menjadi momen bersejarah mengingat universitas ini merupakan tempat Earhart pernah mengabdi sebagai dosen tamu dan peneliti.

Selama lima hari di Pulau Nikumaroro, tim ekspedisi akan menggunakan teknologi sonar, pemindai magnetometer, serta alat hydro-probe untuk membedah lapisan sedimentasi. Langkah pengeboran air presisi tersebut dilakukan guna mengonfirmasi secara pasti struktur bahan dari objek misterius di bawah air.

Hasil dari investigasi lapangan ini diharapkan mampu memberikan jawaban pasti atas spekulasi keberadaan objek Taraia di dasar laguna. Jika terbukti sebagai bangkai pesawat Electra, tim peneliti berencana kembali pada tahun berikutnya untuk melakukan proses pengangkatan dan ekskavasi penuh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....