Tebing Batulawang Jadi Ruang Belajar Vertical Rescue
- 28 Sep 2026 20:38 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, CIREBON - Tebing Batulawang Cirebon kembali menjadi ruang belajar bagi para pegiat alam terbuka. Selama tiga hari, 25–27 September 2026, kawasan tersebut menjadi lokasi pelaksanaan Sekolah Vertical Rescue Angkatan 298 yang diselenggarakan oleh UKM Mapalangit Biru STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon bersama tenaga ahli dari Vertical Rescue Indonesia (VRI).
Sebanyak 39 peserta mengikuti kegiatan yang datang dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Mereka berasal dari Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Bogor, Cianjur, Bandung, Jakarta, Surabaya, Bengkulu, Sumatra Barat, Sulawesi Barat, hingga Singapura.
Kehadiran peserta dari berbagai wilayah tersebut menjadikan Sekolah Vertical Rescue Angkatan 298 bukan hanya sebagai kegiatan pelatihan teknis, tetapi juga sebagai titik temu berbagai latar belakang, pengalaman, dan organisasi yang memiliki perhatian terhadap kegiatan alam terbuka serta keselamatan di medan vertikal. Di bawah pendampingan tenaga ahli Vertical Rescue Indonesia, peserta mengikuti proses pembelajaran yang memadukan pengetahuan dan praktik lapangan.
Tebing Batulawang menjadi laboratorium terbuka bagi peserta untuk memahami bahwa kegiatan vertical rescue membutuhkan keterampilan teknis sekaligus kemampuan bekerja dalam tim, komunikasi, ketelitian, disiplin, dan pengambilan keputusan di lapangan. Bagi Mapalangit Biru, penyelenggaraan angkatan ke-298 ini juga menjadi bagian dari upaya memperluas ruang belajar bagi generasi muda pecinta alam.
Pengetahuan mengenai keselamatan dan pertolongan di medan vertikal dinilai penting untuk terus diwariskan dan dikembangkan melalui proses pendidikan yang berkelanjutan. Kegiatan tersebut semakin kuat dengan dukungan sejumlah organisasi dan komunitas.
UKM PSM Biru, UKM Mapala Gematika STMIK IKMI Cirebon, Mapala Himapa FE UNIKU, Mapala Muci UMC, Mapala Mahapaku, turut mengambil bagian dalam mendukung terselenggaranya kegiatan. Kolaborasi lintas organisasi tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan kepencintaalaman dapat menjadi ruang bersama untuk membangun kapasitas, memperluas persaudaraan, dan mempertemukan para pegiat alam dari berbagai daerah.
Sementara itu Suherman, selaku pengelola wisata Batulawang, menyampaikan bahwa pihaknya menyambut baik kegiatan pelatihan yang dilaksanakan di kawasan tersebut.
“Kami sangat senang Batulawang bisa menjadi tempat untuk belajar dan meningkatkan kemampuan. Kegiatan seperti ini memberikan nilai tambah bagi kawasan karena Batulawang tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga dapat menjadi ruang edukasi, olahraga, dan pengembangan keterampilan. Tentunya kami berharap kegiatan seperti ini tetap mengedepankan keselamatan dan menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Suherman kepada RRI, Senin (18/09/26).
Lebih lanjut , menurutnya, keberadaan kegiatan pendidikan di kawasan wisata juga dapat memperkenalkan potensi Batulawang kepada masyarakat yang lebih luas, khususnya sebagai salah satu lokasi yang memiliki karakter medan vertikal.
Selanjutnya Pembina UKM Mapalangit Biru Ahmad Syarofi, melihat Sekolah Vertical Rescue Angkatan 298 sebagai bagian dari proses kaderisasi dan pengembangan kapasitas generasi muda. Dan kolaborasi dengan berbagai organisasi menjadi modal penting dalam membangun ekosistem kepencintaalaman yang saling menguatkan.
“Bagi kami, kegiatan ini bukan sekadar bagaimana seseorang mampu naik dan turun tebing. Ada nilai yang jauh lebih besar, yaitu bagaimana membangun keberanian yang terukur, kedisiplinan, kepedulian, kemampuan bekerja sama, dan tanggung jawab terhadap keselamatan diri maupun orang lain. Kami ingin Mapalangit Biru terus menjadi bagian dari ruang belajar bersama. Semakin banyak organisasi yang berkolaborasi, semakin banyak pula pengalaman yang bisa dipertukarkan. Dari sanalah kapasitas anggota akan tumbuh,” Ungkap Ahmad Syarofi kepada RRI, Senin (18/09/26).
Sedangkan instruktur, Tedi Ixdiana, selaku Komandan Vertical Rescue Indonesia, menekankan pentingnya proses belajar yang serius dalam dunia vertical rescue. Pelatihan menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan teori dengan kondisi nyata di lapangan.
“Vertical rescue bukan hanya tentang keberanian berada di ketinggian. Di dalamnya ada teknik, prosedur, komunikasi, manajemen risiko, dan tanggung jawab. Karena itu, setiap peserta harus memahami bahwa keselamatan menjadi bagian utama dari setiap tindakan di medan vertikal. Harapannya, setelah mengikuti sekolah ini peserta tidak berhenti pada pengetahuan yang diperoleh selama tiga hari. Mereka terus berlatih, memperdalam kemampuan, dan mampu membagikan pengetahuan tersebut di lingkungan masing-masing,” ,” kata Tedi disela-sela kegiatan.
Sekolah Vertical Rescue Angkatan 298 juga menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antarkomunitas pecinta alam dari berbagai wilayah. Peserta yang datang dari Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi hingga Singapura membawa pengalaman dan latar belakang organisasi yang berbeda, kemudian dipertemukan dalam satu ruang belajar yang sama.
Rangkaian kegiatan ditutup pada Minggu, 27 September 2026. Namun, bagi penyelenggara dan peserta, berakhirnya pelatihan bukan berarti berakhir pula proses belajar. Justru dari Tebing Batulawang, pengetahuan, pengalaman, dan jejaring yang terbentuk selama tiga hari diharapkan dapat dibawa pulang untuk dikembangkan di daerah masing-masing.
Sekolah Vertical Rescue Angkatan 298 akhirnya bukan hanya meninggalkan jejak di Tebing Batulawang, tetapi juga mempertemukan banyak orang dalam satu semangat: belajar, menjaga keselamatan, berbagi pengetahuan, dan membangun solidaritas di alam terbuka.
(Sumber: Ahmad Syarofi _Pembina UKM Mapalangit Biru)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....