AI dan Pendidikan Tinggi Semakin Beririsan

  • 19 Sep 2026 18:14 WIB
  •  Cirebon
Poin Utama
  • Artificial intelligence (AI) dan generative AI semakin terintegrasi di pendidikan tinggi, tidak hanya sebagai alat pencarian informasi tetapi juga memengaruhi metode pengajaran, penelitian, dan layanan akademik.
  • Studi Discover Education (17 September 2026) mengidentifikasi peluang dan tantangan integrasi AI di perguruan tinggi, mencakup pembelajaran, penelitian, integritas akademik, kesenjangan digital, etika, dan literasi AI.
  • Sistem AI semakin mampu bekerja secara mandiri, menimbulkan persoalan etika dan literasi AI yang perlu ditangani oleh institusi pendidikan tinggi.

RRI.CO.ID, Cirebon - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin masuk ke ruang pendidikan tinggi. Teknologi ini tidak lagi hanya digunakan mahasiswa untuk mencari informasi atau membantu menyelesaikan tugas, tetapi mulai memengaruhi cara perguruan tinggi mengajar, melakukan penelitian, memberikan layanan akademik, hingga menyiapkan lulusan menghadapi dunia kerja.

Studi terbaru yang diterbitkan dalam Discover Education pada 17 September 2026 menunjukkan bahwa integrasi AI dan khususnya generative AI di pendidikan tinggi terus berkembang di berbagai negara. Kajian tersebut memetakan peluang sekaligus tantangan yang muncul, mulai dari pembelajaran dan penelitian hingga persoalan integritas akademik, kesenjangan digital, etika, literasi AI, dan munculnya sistem AI yang semakin mampu bekerja secara mandiri.

Perubahan tersebut membuat kampus menghadapi pertanyaan baru: apakah AI harus dilarang dalam tugas akademik, atau justru diajarkan sebagai bagian dari kompetensi mahasiswa? Perdebatan itu semakin relevan karena AI generatif sudah menjadi bagian dari keseharian banyak mahasiswa dan dosen.

UNESCO dalam Digital Learning Week 2026 yang berlangsung pada 8 hingga 11 September lalu menyoroti perubahan tersebut. Dalam survei tahunannya mengenai AI di pendidikan tinggi, 93 persen akademisi yang disurvei meyakini mahasiswa menggunakan AI generatif untuk mengerjakan tugas, sementara 63 persen melihat adanya penurunan kemampuan kognitif mahasiswa. Survei tersebut juga menunjukkan bahwa sebagian besar responden lebih mendukung penggunaan AI dengan batasan atau kewajiban pengungkapan, dibandingkan pelarangan total.

Namun, penerapan AI di kampus belum selalu diikuti aturan yang jelas. UNESCO mencatat dalam laporan tren pendidikan tinggi global 2026 bahwa pada 2025 hanya sekitar satu dari lima universitas yang telah memiliki kebijakan formal mengenai AI. Kondisi ini menunjukkan adanya jarak antara cepatnya penggunaan teknologi dengan kesiapan institusi dalam mengatur pemanfaatannya.

Di Indonesia, perkembangan serupa mulai terlihat di lingkungan perguruan tinggi. LLDIKTI Wilayah IV pada September 2026 meluncurkan Konsorsium AI yang melibatkan ekosistem perguruan tinggi, pemerintah, industri, komunitas, dan media. Dari sekitar 3.115 program studi aktif di wilayah tersebut, 452 program studi yang tersebar di 214 perguruan tinggi dinilai memiliki potensi untuk ikut mengembangkan penerapan AI.

Di tingkat internasional, sejumlah perguruan tinggi bahkan mulai mengubah struktur pembelajarannya agar mahasiswa memahami AI sesuai bidang masing-masing. University of Surrey di Inggris, misalnya, mulai memasukkan pengajaran AI yang disesuaikan dengan disiplin ilmu ke dalam seluruh program gelar mulai September 2026, sekaligus mengubah pendekatan penilaian untuk menjaga kemampuan berpikir mandiri mahasiswa.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama pendidikan tinggi di era AI bukan lagi sekadar apakah mahasiswa menggunakan teknologi tersebut. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan mahasiswa memahami kapan AI dapat digunakan, bagaimana memeriksa hasilnya, serta kapan kemampuan manusia seperti penalaran, kreativitas dan penilaian kritis tetap harus menjadi yang utama.

Karena itu, hubungan antara AI dan kampus kemungkinan akan semakin erat dalam beberapa tahun mendatang. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan mahasiswa yang mampu memakai AI, tetapi juga lulusan yang memahami keterbatasan, risiko, dan konsekuensi dari teknologi tersebut ketika digunakan dalam kehidupan profesional maupun masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....