AI Mulai Membaca Risiko Banjir sebelum Bencana Datang

  • 19 Sep 2026 17:43 WIB
  •  Cirebon
Poin Utama
  • Kecerdasan buatan dikembangkan untuk memprediksi risiko banjir perkotaan secara real-time dengan memanfaatkan data curah hujan dan karakteristik sistem drainase.
  • Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Hydrology pada September 2026 menunjukkan model AI mampu memberikan prakiraan banjir hingga beberapa jam ke depan dengan akurasi mencapai 92 persen.
  • Teknologi AI ini membuka peluang baru dalam mitigasi bencana alam di Indonesia, khususnya untuk daerah perkotaan yang rawan banjir.

RRI.CO.ID, Cirebon - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai memainkan peran baru dalam menghadapi bencana alam. Bukan hanya digunakan untuk menghasilkan teks, gambar, atau membantu pekerjaan manusia, teknologi ini kini dikembangkan untuk membaca berbagai data lingkungan dan memperkirakan risiko banjir sebelum dampaknya semakin besar.

Salah satu perkembangan terbaru datang dari penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Hydrology pada September 2026. Peneliti mengembangkan kerangka berbasis AI yang memanfaatkan informasi curah hujan dan karakteristik sistem drainase untuk membantu memprediksi risiko banjir perkotaan secara real-time. Model tersebut dilaporkan mampu menghasilkan prakiraan hingga beberapa jam ke depan, dengan akurasi yang dalam pengujian tertentu mencapai 92 persen.

Cara kerja teknologi semacam ini pada dasarnya adalah mencari pola dari data dalam jumlah besar. AI dapat mempelajari hubungan antara hujan, kondisi drainase, karakteristik wilayah, serta kejadian banjir sebelumnya untuk memperkirakan bagaimana suatu kawasan akan merespons ketika hujan deras terjadi.

Teknologi AI juga semakin banyak dikombinasikan dengan data penginderaan jauh. Penelitian yang diterbitkan Scientific Reports pada Agustus 2026, misalnya, mengembangkan kerangka Geo-AI yang menggabungkan data satelit dan sejumlah indikator lingkungan untuk membuat pemetaan banjir beresolusi tinggi secara otomatis. Sistem tersebut diuji menggunakan data banjir Pakistan 2022 dan membandingkan 17 algoritma pembelajaran mesin.

Data satelit memiliki keunggulan karena dapat memberikan gambaran wilayah yang luas tanpa harus menunggu petugas mendatangi seluruh lokasi terdampak. Dalam kondisi tertentu, teknologi radar seperti Sentinel-1 juga dapat membantu mendeteksi genangan meskipun tutupan awan menyulitkan penggunaan citra optik. Penelitian lain pada 2026 menggabungkan data radar, indeks vegetasi dan air, serta informasi tutupan lahan untuk meningkatkan pemetaan risiko banjir.

Pemanfaatan AI tidak berhenti pada tahap memperkirakan wilayah yang berpotensi tergenang. Sebuah penelitian dalam Natural Hazards yang diterbitkan pada Agustus 2026 mengembangkan platform berbasis AIoT untuk mendeteksi banjir dan memetakan dampaknya secara mendekati waktu nyata. Konsep ini ditujukan untuk membantu pengambilan keputusan ketika bencana sedang berlangsung.

Di kawasan Asia-Pasifik, teknologi serupa juga mulai mendapat perhatian. UNESCAP bersama BRIN menggelar pelatihan pada Mei 2026 mengenai pemanfaatan AI dan data spasial-temporal untuk analisis dampak banjir, termasuk penggunaan SatGPT. Teknologi tersebut dikembangkan untuk membantu memetakan paparan, kerentanan, kerusakan, serta risiko banjir sehingga informasi teknis dapat lebih mudah digunakan dalam pengurangan risiko bencana.

Namun, AI bukan berarti menggantikan ahli kebencanaan, meteorolog, maupun petugas di lapangan. Hasil yang diberikan sistem tetap bergantung pada kualitas data, model yang digunakan, serta kondisi nyata di lapangan. Karena itu, AI lebih tepat diposisikan sebagai alat bantu pengambilan keputusan yang dapat mempercepat analisis dan memberikan peringatan awal.

Perkembangan ini menunjukkan perubahan penting dalam cara manusia menghadapi bencana. Jika sebelumnya teknologi banyak digunakan untuk memetakan wilayah yang sudah terdampak, kini AI mulai diarahkan untuk membaca pola dan memberikan gambaran tentang wilayah yang berpotensi menghadapi risiko.

Bagi negara seperti Indonesia yang memiliki banyak wilayah rawan banjir, pendekatan tersebut dapat menjadi bagian dari sistem mitigasi berbasis data. Tantangannya bukan hanya membangun algoritma yang semakin akurat, tetapi juga memastikan data tersedia, sistem dapat digunakan oleh lembaga terkait, dan informasi akhirnya benar-benar sampai kepada masyarakat sebelum bahaya berubah menjadi bencana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....