Rahasia Umur Panjang ternyata Ada di DNA Kelelawar

  • 19 Sep 2026 08:04 WIB
  •  Cirebon
Poin Utama
  • Kelelawar memiliki kemampuan hidup yang luar biasa panjang dibandingkan dengan ukuran tubuhnya, dan rahasia tersebut mungkin tersimpan dalam mekanisme DNA yang berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh, kanker, dan kerusakan sel.
  • Penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature pada 26 Agustus 2026 menganalisis genom hampir lengkap dari delapan spesies kelelawar dalam genus Myotis untuk memahami kemampuan bertahan hidup mereka.
  • Para peneliti melakukan eksperimen menggunakan sel kelelawar untuk melihat bagaimana perubahan genetik tertentu berhubungan dengan kemampuan menghadapi penyakit dan proses penuaan.

RRI.CO.ID, Cirebon - Kelelawar selama ini dikenal sebagai salah satu mamalia dengan kemampuan hidup yang tidak biasa jika dibandingkan dengan ukuran tubuhnya. Kini, penelitian terbaru menunjukkan bahwa rahasia umur panjang hewan ini mungkin tersimpan di dalam DNA, khususnya pada mekanisme yang berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh, kanker, dan kerusakan sel.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature pada 26 Agustus 2026 menganalisis genom hampir lengkap dari delapan spesies kelelawar dalam genus Myotis. Para peneliti juga melakukan eksperimen menggunakan sel kelelawar untuk melihat bagaimana perubahan genetik tertentu berhubungan dengan kemampuan bertahan hidup dan menghadapi penyakit.

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara umur panjang dan sistem kekebalan tubuh. Sejumlah gen yang berkaitan dengan kemampuan hidup lebih lama ternyata juga terlibat dalam interaksi dengan virus, sehingga para peneliti menduga kemampuan kelelawar menghadapi infeksi turut berperan dalam menjaga kesehatan mereka selama bertahun-tahun.

Kelelawar memang menjadi pengecualian menarik dalam dunia mamalia. Secara umum, mamalia berukuran lebih besar cenderung memiliki umur lebih panjang dibandingkan mamalia kecil. Namun, beberapa spesies kelelawar dapat hidup selama puluhan tahun meskipun tubuhnya hanya sebesar tikus.

Salah satu contoh yang menjadi perhatian peneliti adalah little brown bat atau Myotis lucifugus. Kelelawar kecil ini dapat hidup hingga sekitar 34 tahun, sedangkan tikus dengan ukuran tubuh yang kurang lebih sebanding biasanya hanya mampu bertahan beberapa tahun atau bahkan jauh lebih singkat di alam liar.

Yang lebih menarik ditemukan ketika para ilmuwan menguji respons sel kelelawar terhadap kerusakan DNA. Pada spesies kelelawar yang berumur panjang, termasuk Myotis lucifugus, terdapat tanda-tanda seleksi evolusioner pada sejumlah jalur biologis yang berkaitan dengan perbaikan kerusakan DNA dan perlindungan terhadap kanker.

Namun, respons kelelawar ternyata tidak selalu berupa upaya memperbaiki sel yang rusak. Dalam percobaan terhadap M. lucifugus, para peneliti menemukan bahwa sel dapat meningkatkan aktivitas gen yang mendorong kematian sel yang mengalami kerusakan berat. Dengan kata lain, ketika sebuah sel sudah terlalu rusak untuk diselamatkan, tubuh dapat memilih untuk menghilangkannya sebelum berpotensi menimbulkan masalah lebih besar.

Mekanisme tersebut menarik karena sel yang mengalami kerusakan DNA dapat menjadi sumber masalah jika terus bertahan dan berkembang secara tidak terkendali. Karena itu, kemampuan tubuh untuk mengenali dan menghilangkan sel yang rusak dapat menjadi salah satu bagian dari pertahanan alami terhadap kanker. Penelitian ini belum berarti kelelawar memiliki "obat kanker" alami, tetapi memberikan petunjuk mengenai mekanisme biologis yang layak dipelajari lebih lanjut.

Para peneliti juga menemukan hubungan yang tidak terduga antara gen yang berkaitan dengan umur panjang dan gen yang berinteraksi dengan virus. Pada kelelawar, sejumlah protein yang berinteraksi dengan virus DNA menunjukkan pola evolusi yang berbeda dibandingkan mamalia lain. Beberapa di antaranya berhubungan dengan sistem pertahanan antivirus, termasuk pengaturan sinyal interferon yang membantu mengoordinasikan respons imun.

Hubungan antara kekebalan terhadap virus dan umur panjang menjadi salah satu bagian penting dari penelitian ini. Para ilmuwan menduga bahwa kemampuan kelelawar mempertahankan sistem imun yang efektif tanpa mengalami kerusakan akibat respons berlebihan mungkin berkontribusi terhadap kemampuan mereka bertahan hidup lebih lama.

Genus Myotis sendiri menjadi objek penelitian yang menarik karena memiliki lebih dari 139 spesies dengan perbedaan umur yang cukup ekstrem. Salah satunya, Brandt's myotis, pernah tercatat hidup sekitar 50 tahun, sementara spesies Myotis nigricans memiliki umur jauh lebih pendek. Perbedaan tersebut memungkinkan ilmuwan membandingkan kerabat dekat untuk mencari faktor genetik yang berkaitan dengan umur panjang.

Meski demikian, hasil penelitian ini belum berarti manusia dapat memperpanjang usia hanya dengan meniru DNA kelelawar. Para peneliti masih perlu memahami bagaimana mekanisme tersebut bekerja secara rinci dan apakah prinsip biologisnya dapat diterapkan pada manusia dengan aman. Temuan ini lebih tepat dipandang sebagai petunjuk baru mengenai bagaimana alam mengatasi persoalan penuaan, kerusakan DNA, infeksi, dan kanker.

Penelitian terhadap kelelawar akhirnya membuka perspektif menarik tentang proses penuaan. Hewan kecil yang selama ini sering dikaitkan dengan kehidupan malam ternyata menyimpan sistem biologis yang sangat kompleks, dan mempelajarinya dapat membantu ilmuwan memahami mengapa sebagian mamalia mampu mempertahankan kesehatan selama puluhan tahun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....