Planet Bayi Termuda di Alam Semesta Ditemukan
- 18 Sep 2026 23:07 WIB
- Cirebon
Poin Utama
- Para astronom telah mengonfirmasi keberadaan planet Elias 2-24 b yang berusia kurang dari satu juta tahun, menjadikannya planet termuda yang pernah diketahui oleh para ilmuwan.
- Planet ini memberikan kesempatan langka bagi para ilmuwan untuk melihat dan mempelajari dunia yang masih berada pada tahap awal pembentukannya.
- Elias 2-24 b masih mengorbit di dalam cakram gas dan debu yang mengelilingi bintang induknya, membuat planet ini tampak seperti bayi kosmik yang sedang tumbuh.
RRI.CO.ID, Cirebon - Para astronom mengonfirmasi keberadaan sebuah planet yang usianya bahkan belum mencapai satu juta tahun. Planet bernama Elias 2-24 b tersebut kini tercatat sebagai planet termuda yang diketahui dan memberi para ilmuwan kesempatan langka untuk melihat dunia yang masih berada pada tahap awal pembentukannya.
NASA melaporkan pada 16 September 2026 bahwa Elias 2-24 b masih mengorbit di dalam cakram gas dan debu yang mengelilingi bintang induknya. Kondisi tersebut membuat planet ini tampak seperti "bayi" kosmik yang masih tumbuh di lingkungan tempat ia dilahirkan.
Planet tersebut berada sekitar 450 tahun cahaya dari Bumi dan memiliki massa kira-kira setara dengan Jupiter. Elias 2-24 b mengorbit bintang muda bernama Elias 2-24, yang dikelilingi material berupa gas, debu, es dan bebatuan yang menjadi bahan dasar pembentukan planet.
Yang membuat temuan ini semakin menarik adalah lokasi planet tersebut. Elias 2-24 b berada di sebuah celah pada cakram material di sekitar bintangnya. Menurut para peneliti, keberadaan celah tersebut dapat menjadi petunjuk bahwa sebuah planet sedang terbentuk dan material di sekitarnya tersapu oleh proses pertumbuhan planet.
Temuan ini sekaligus menantang pemahaman ilmuwan mengenai seberapa cepat planet raksasa dapat terbentuk. Sebelumnya, planet-planet termuda yang diketahui berusia lebih dari lima juta tahun, sementara model pembentukan planet yang ada memperkirakan planet seukuran Jupiter membutuhkan waktu sekitar lima juta tahun untuk terbentuk pada jarak yang sebanding dengan orbit Jupiter dari Matahari.
Elias 2-24 b justru berada sekitar 55 kali lebih jauh dari bintang induknya dibandingkan jarak Bumi ke Matahari. Jarak yang sangat besar itu membuat usia planet yang masih di bawah satu juta tahun menjadi teka-teki bagi para ilmuwan, karena teori yang ada belum sepenuhnya menjelaskan bagaimana planet raksasa dapat terbentuk begitu cepat dan jauh dari bintangnya.
Penemuan ini sebenarnya bermula dari pengamatan sekitar satu dekade lalu. Data dari Atacama Large Millimeter/submillimeter Array atau ALMA di Chile menunjukkan adanya celah pada cakram debu Elias 2-24, kemudian pengamatan menggunakan Very Large Telescope milik European Southern Observatory menemukan titik cahaya redup di lokasi tersebut.
Namun, para astronom masih perlu memastikan apakah titik cahaya itu benar-benar sebuah planet. Tim yang dipimpin Andrea Bernardi dari Universidad Diego Portales kemudian menelusuri arsip pengamatan W. M. Keck Observatory yang didanai NASA dan menemukan objek yang sama dalam data tahun 2018 dan 2020.
Dengan menggabungkan pengamatan tersebut, mereka dapat mempelajari pergerakan objek dan memastikan bahwa benda tersebut berperilaku seperti planet. Bagi ilmuwan, Elias 2-24 b seperti jendela untuk melihat masa kanak-kanak sebuah sistem planet.
Karena tata surya kita juga terbentuk dari cakram gas dan debu miliaran tahun lalu, mempelajari planet yang masih sangat muda dapat membantu ilmuwan memahami seperti apa kondisi tata surya pada tahap awal kehidupannya. Para peneliti juga berharap penemuan seperti ini akan semakin sering dilakukan dengan teknologi teleskop generasi baru. Nancy Grace Roman Space Telescope milik NASA, yang diluncurkan pada 30 Agustus 2026, memiliki coronagraph yang dirancang untuk membantu mengamati planet-planet yang sulit terlihat karena tertutup cahaya bintang induknya.
Penemuan Elias 2-24 b menunjukkan bahwa alam semesta masih menyimpan banyak tahap pembentukan planet yang belum sepenuhnya dipahami. Planet "bayi" ini bukan hanya memecahkan rekor usia, tetapi juga memberikan tantangan baru bagi teori tentang bagaimana dunia-dunia raksasa terbentuk dan berkembang di sekitar bintang muda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....