Mitos Kehancuran Perpustakaan Alexandria
- 01 Sep 2026 23:02 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Pada awal abad ketiga SM, Ptolemy I bersama putranya Ptolemy II mendirikan Perpustakaan Alexandria di kawasan Mouseion untuk mengumpulkan seluruh pengetahuan manusia atas saran Demetrius dari Phalerum. Tempat penyimpanan berukuran besar tersebut diperkirakan mampu menampung puluhan ribu hingga 900.000 gulungan papirus ilmiah.
Dilansir dari Nationalgeographic.com, Selasa 1 September 2026, selama berabad-abad, narasi kehancuran perpustakaan ini kerap ditujukan kepada aksi pembakaran oleh Julius Caesar pada 48 SM, amukan massa Kristen, hingga pasukan penakluk Muslim pimpinan Khalifah Omar. Menurut ahli papirologi Roger Bagnall dan akademisi Alexandra Schultz, kisah pemusnahan massal lewat inferno besar tersebut sebenarnya hanyalah sebuah mitos belaka.
Tuduhan kepada Julius Caesar bermula dari catatannya bersama Seneca dan Plutarch terkait kebakaran yang melalap area pelabuhan saat membela Cleopatra melawan Ptolemy XIV. Meski demikian, Roger Bagnall menegaskan bahwa bangunan perpustakaan utama tetap berdiri kokoh serta beroperasi hingga melintasi era Kekaisaran Romawi.
Mitos keterlibatan massa Kristen yang membakar perpustakaan serta membunuh akademisi Hypatia seperti dalam film Agora juga terbukti bukan berasal dari catatan sejarah kuno. Begitu pula klaim bahwa Khalifah Omar menjadikan buku-buku perpustakaan sebagai bahan bakar pemandian umum selama enam bulan yang terbukti merupakan tradisi buatan abad pertengahan.
Berdasarkan riset akademisi Cat Lambert dan AnneMarie Luijendijck, dokumen papirus kuno sangat rentan terhadap serangan hama ngengat, kelembapan udara, hingga gigitan tikus. Guna mencegah kerusakan teks dari serangga penggerat, orang-orang Romawi zaman dahulu bahkan harus mengoleskan minyak kayu cedar secara berkala pada gulungan papirus.
Krisis militer dan ketidakstabilan ekonomi pada abad ketiga Masehi akhirnya memicu pemotongan anggaran perawatan serta penghentian proses penyalinan ulang teks-teks ilmiah. Akibat ketiadaan pemeliharaan rutin dari pengelola, seluruh koleksi pengetahuan kuno tersebut perlahan hancur dan terurai dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.
Di lokasi terpisah, para arkeolog di Roma berhasil menemukan delapan ruangan megah berhias mosaik indah dari markas lima Kohort Vigiles di Villa Celimontana dekat Colosseum. Penemuan bangunan era Kekaisaran Romawi ini mengungkap jejak sejarah pasukan penjaga malam yang bertugas sebagai pemadam kebakaran kota antik tersebut.
Sementara itu, analisis isotop strontium terbaru dari Julianne Stamer membongkar fakta baru terkait temuan 79 kerangka manusia berantai di Phaleron dekat Athena. Hasil studi ilmiah membuktikan bahwa sebagian besar jasad tersebut merupakan warga lokal Attica yang tewas akibat konflik perebutan kekuasaan politik pada abad ketujuh hingga keenam SM.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....