Hollywood dan AI, Masa Depan Film tanpa Manusia?

  • 20 Agt 2026 10:52 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Perkembangan kecerdasan buatan generatif kini semakin dekat dengan industri hiburan Hollywood. Salah satu perkembangan terbaru terjadi ketika ByteDance dan Motion Picture Association atau MPA mencapai kesepakatan untuk memperkuat perlindungan hak cipta dalam penggunaan teknologi AI pembuat gambar dan video.

Kesepakatan tersebut muncul setelah sebelumnya MPA melayangkan surat peringatan kepada ByteDance terkait teknologi AI generatif miliknya. Reuters menyebut kesepakatan itu berkaitan dengan perangkat AI Seedance dan Seedream, sekaligus menunjukkan bahwa industri film mulai mencari cara untuk memanfaatkan teknologi tersebut tanpa mengabaikan hak kekayaan intelektual para pemilik karya.

Axios melaporkan bahwa sejumlah perusahaan hiburan Hollywood mulai melihat AI bukan semata-mata sebagai ancaman terhadap pekerja kreatif, melainkan sebagai teknologi yang dapat digunakan untuk membantu proses produksi. Amazon MGM Studios, misalnya, telah menggunakan AI dalam sejumlah tahapan seperti pemetaan adegan dan pekerjaan pascaproduksi, sementara teknologi tersebut diposisikan sebagai alat untuk mempercepat proses kerja manusia.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pertarungan antara manusia dan AI di industri film mungkin tidak sesederhana pertanyaan apakah mesin akan menggantikan manusia. Variety mencatat Amazon MGM Studios bahkan membentuk program GenAI Creators Fund yang menyediakan pendanaan serta akses terhadap teknologi AI bagi pembuat film, kreator digital, dan perusahaan rintisan untuk mengembangkan tayangan televisi maupun film.

Namun, masuknya AI juga menimbulkan persoalan mengenai siapa yang memiliki hak atas karya yang dihasilkan atau dibantu mesin. Axios melaporkan bahwa Hollywood sebelumnya mengambil langkah hukum terhadap sejumlah perusahaan AI, termasuk gugatan Disney dan NBCUniversal terhadap Midjourney yang menuduh perusahaan tersebut menggunakan kekayaan intelektual milik studio tanpa izin.

Persoalan lainnya menyangkut keberadaan manusia di balik sebuah film. Variety memberitakan kemunculan Tilly Norwood, karakter yang disebut sebagai aktor AI, yang kemudian disiapkan menjadi pemeran utama dalam film panjang berjudul Misaligned. Film tersebut dirancang dengan model produksi gabungan yang tetap melibatkan pekerja manusia seperti penulis, sutradara, dan editor bersama tenaga ahli AI.

Di sisi lain, tidak semua pelaku industri melihat penggunaan AI sebagai perkembangan yang harus diterima tanpa kritik. Variety mengutip sutradara The Backrooms, Kane Parsons, yang menilai penggunaan AI dalam proses kreatif dapat menghilangkan sebagian pengalaman manusia yang menurutnya menjadi inti dari pembuatan film, meskipun ia mengakui teknologi tersebut mungkin bermanfaat untuk pekerjaan tertentu seperti efek visual.

Perdebatan serupa juga muncul di kalangan sineas senior. Variety melaporkan sutradara Martin Scorsese justru mengambil posisi yang lebih terbuka dengan menggunakan teknologi AI untuk membantu membuat storyboard, karena menurutnya perkembangan teknologi dapat menjadi bagian dari evolusi sinema selama tetap digunakan untuk mendukung proses kreatif.

Bagi industri film, persoalan utama ke depan bukan hanya apakah AI dapat menghasilkan gambar atau video yang terlihat meyakinkan. Axios menilai Hollywood sedang berada dalam tahap perubahan ketika studio mencoba memanfaatkan AI sambil mempertahankan peran penulis, aktor, sutradara, dan pekerja kreatif sebagai bagian penting dari proses produksi serta perlindungan hak cipta.

Perkembangan Hollywood tersebut juga menjadi pertanyaan bagi industri kreatif Indonesia. Jika teknologi AI semakin murah dan mudah digunakan, produksi film, iklan, animasi, musik, hingga konten digital dapat menjadi lebih cepat dan murah, tetapi pada saat yang sama muncul pertanyaan mengenai lapangan pekerjaan, orisinalitas karya, hak cipta, serta nilai kreativitas manusia. Karena itu, tantangan terbesar bukan sekadar memilih antara manusia atau AI, melainkan menentukan bagaimana AI digunakan tanpa menghilangkan penghargaan terhadap manusia yang menciptakan karya tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....