Ketika Membalas Pesan Jadi Beban

  • 18 Agt 2026 13:48 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – “Kok cuma mau balas chat saja harus mikir selama itu?” Bagi sebagian orang, membalas pesan bukan sekadar mengetik lalu menekan tombol kirim. Ada yang berkali-kali membaca ulang pesannya, menghapus dan mengetik ulang, atau bahkan sengaja menunda membalas karena takut salah memilih kata. Fenomena ini kerap disebut sebagai texting anxiety, yaitu rasa cemas atau tidak nyaman yang muncul ketika seseorang berkomunikasi melalui pesan teks.

Texting anxiety dapat muncul dalam berbagai bentuk. Seseorang mungkin takut pesannya terdengar terlalu singkat, terlalu antusias, terlalu dingin, atau justru terlalu banyak bicara. Bahkan, tanda baca sederhana seperti titik, emoji, atau jeda waktu dalam membalas pesan dapat dipikirkan secara berlebihan. Komunikasi yang seharusnya sederhana akhirnya berubah menjadi sumber overthinking.

Dilansir dari laman psychologytoday.com, kecemasan dalam komunikasi digital dapat berkaitan dengan kekhawatiran seseorang terhadap bagaimana dirinya akan dinilai oleh orang lain. Berbeda dengan percakapan langsung, pesan teks tidak memberikan intonasi suara, ekspresi wajah, maupun bahasa tubuh secara langsung.

Akibatnya, penerima maupun pengirim pesan dapat lebih mudah menafsirkan sesuatu secara berlebihan. Kondisi tersebut juga dapat membuat seseorang terus memikirkan pesan yang telah dikirim. “Tadi aku terlalu jutek, tidak ya?”, “Dia kenapa cuma membalas singkat?”, atau “Kalau aku balas sekarang, kelihatan terlalu menunggu tidak?” menjadi pertanyaan yang berputar di kepala.

Dilansir dari health.clevelandclinic.org, kecemasan dapat membuat seseorang terus memikirkan kemungkinan buruk dan sulit menghentikan pola kekhawatiran tersebut. Media sosial juga membuat komunikasi semakin sulit dilepaskan dari ekspektasi.

Fitur seperti status aktif, tanda pesan telah dibaca, hingga informasi kapan seseorang terakhir aktif dapat membuat orang merasa harus segera memberikan respons. Padahal, seseorang bisa saja sedang bekerja, belajar, beristirahat, atau memang belum memiliki energi untuk berkomunikasi. Tidak semua keterlambatan membalas pesan memiliki makna tersembunyi.

Mengurangi texting anxiety dapat dimulai dengan menyadari bahwa komunikasi tidak harus selalu sempurna. Tidak semua pesan membutuhkan jawaban yang panjang, lucu, atau dirancang dengan hati-hati. Memberikan waktu kepada diri sendiri sebelum membalas juga tidak salah, selama tidak membuat seseorang terus terjebak dalam kekhawatiran. Yang terpenting adalah menyampaikan pesan dengan jujur dan sesuai kebutuhan.

Pada akhirnya, pesan hanyalah salah satu bentuk komunikasi, bukan ukuran nilai diri seseorang maupun ukuran seberapa besar seseorang dihargai oleh orang lain. Tidak semua pesan singkat berarti marah, tidak semua keterlambatan berarti kehilangan ketertarikan, dan tidak semua percakapan harus berjalan sempurna. Terkadang, tombol “kirim” memang hanya perlu ditekan tanpa membaca ulang pesan sebanyak sepuluh kali.

(Sumber: SalshaKhoerunisa_TelkomUniversityBandung)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....