Joseon dan Goryeo, Seringkali Dianggap Sama Nyatanya Berbeda
- 13 Agt 2026 15:09 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Secara historis dan menurut tradisi, Korea mulai berbentuk kerajaan sejak mendirikan Gojoseon pada tahun 2333 SM (sebelum Masehi), dan sistem kerajaan ini terus berlanjut hingga runtuhnya Kekaisaran Korea pada tahun 1910 M.
Namun taukah Anda, ada hal menarik bila bicara tentang dua kerajaan kuno di Korea yang seringkali dianggap sama padalah tidak. Kok bisa? Ya, sangat benar. Meskipun Joseon dan Goryeo sama-sama merupakan kerajaan besar yang memimpin Semenanjung Korea, keduanya adalah dua entitas yang sangat berbeda secara ideologi, struktur sosial, budaya, hingga sistem pemerintahan.
Mengutip dari laman Instagram @crownofjoseon, dikatakan bahwa kendatipun Joseon dan Goryeo, sama-sama kerajaan Korea. Tapi beda total mulai dar sisi agama, seni, sampai hak perempuan Transisi dari Goryeo ke Joseon pada akhir abad ke-14 (tahun 1392) bukan sekadar pergantian dinasti, melainkan sebuah revolusi sistemik dan ideologis.
Perbedaan-perbedaan utama antara Kerajaan Goryeo dan Kerajaan Joseon, diantaranya adalah:
• Agama dan Ideolog: Bila di kerajaan Goryeo (918–1392) Agama Buddha dijadikan sebagai agama resmi dan fondasi negara. Para biksu memiliki pengaruh politik yang sangat besar, tanah yang luas, dan kekayaan melimpah. Sedangkan di kerajaan Joseon (1392–1897), menekan agama Buddha dan menjadikan Neo-Konfusianisme sebagai ideologi tunggal negara. Landasan ini mengatur seluruh tatanan hukum, moralitas masyarakat, hingga tata cara ritual istana.
• Hubungan Luar Negeri dan Asal-usul Nama "Korea": Bila dimasa Goryeo dikenal sangat terbuka terhadap dunia luar dan perdagangan internasional (melalui pelabuhan Byeokrando). Nama "Korea" yang dikenal dunia internasional saat ini berasal dari kata "Goryeo". Sementara masa Joseon, kerjaan ini lebih memilih kebijakan luar negeri yang sangat tertutup dan isolasionis (sering dijuluki The Hermit Kingdom atau Kerajaan Pertapa), kecuali hubungan diplomatik ketat (Sadae) dengan Dinasti Ming/Qing di Tiongkok.
• Tatanan Sosial dan Peran Perempuan: Di era Goryeo, struktur sosial relatif lebih fleksibel. Perempuan memiliki hak yang cukup tinggi: bisa mewarisi harta keluarga secara setara dengan pria, menjadi kepala keluarga jika tidak ada anak laki-laki, dan perceraian atau pernikahan kembali bagi perempuan adalah hal yang lumrah. Namun kebalikan dari Gorgeo, di era Joseon. Di era ini akibat dari mulai berlakukannya system patriarki ketat Neo-Konfusianisme, posisi perempuan merosot tajam. Perempuan dibatasi di dalam rumah, tidak berhak atas warisan utama, serta pernikahan kembali bagi janda sangat dilarang dan dianggap mencoreng kehormatan keluarga.
• Kebudayaan dan Aksara: Jika di jaman Goryeo dikenal dengan mahakarya seni seperti Keramik Seladon (Goryeo celadon) yang berwarna hijau giok, serta inovasi cetak blok kayu Tripitaka Koreana dan penemuan tipe cetak logam bergerak pertama di dunia. Tulisan resmi menggunakan karakter Tionghoa (Hanja). Sedangkan pada jaman Joseon, kerajaan ini justru terkenal dengan kebudayaan keramik putih (Baekja). Pencapaian budaya terbesar Joseon terjadi pada abad ke-15 di bawah Raja Sejong yang Agung, yaitu diciptakannya aksara asli Korea, Hangul, untuk meningkatkan literasi rakyat biasa.
• Ibu Kota dan Pusat Pemerintahan: Kerajaan Goryeo beribu kota di Gaegyeong (sekarang Gaeseong, Korea Utara). Sedangkan Joseon, memindahkan ibu kota ke Hanyang (sekarang Seoul, Korea Selatan) dan membangun istana-istana besar seperti Gyeongbokgung.
Sejarah kerajaan di Korea tidak dimulai dari satu kerajaan tunggal, melainkan berkembang melalui beberapa periode dinasti selama ribuan tahun. Secara garis besar, jika Goryeo ditandai oleh kejayaan budaya Buddha dan keterbukaan maritim, maka Joseon adalah tatanan masyarakat Konfusianis yang membentuk struktur sosial, norma etik, dan budaya Korea modern hingga hari ini.
Semoga Artikel ini, menambah wawasan Anda ya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....