Paparan Media Sosial Berlebih Ancam Perkembangan Sosial Anak
- 11 Agt 2026 10:40 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Seiring mudahnya akses internet dan perangkat digital, penggunaan media sosial kini semakin marak digunakan di kalangan anak-anak. Berbagai platform digunakan untuk menonton video, bermain, berkomunikasi, hingga mencari informasi yang menarik perhatian mereka.
Kemasifan ini menjadi perhatian serius para pakar yang mengingatkan risiko penggunaan media sosial oleh anak-anak. Guru Besar Media Prof. Dra. Rachmah Ida, M.Comms., Ph.D. prihatin karena sebagian orang tua mengenalkan dunia digital sebelum anak memahami risikonya.
“Anak-anak sekarang tumbuh bersama media sosial. Padahal, orang tua merupakan role model utama yang seharusnya membentuk nilai, karakter, dan cara anak memahami lingkungan sosialnya,” ujarnya dalam artikel yang diterbitkan website UNAIR Rabu, 10 Juni 2026.
| Baca juga: Pelafalan Doa yang Salah Dapat Merubah Makna |
Dosen FISIP Universitas Airlangga itu menjelaskan bahwa ruang digital menyimpan berbagai risiko, termasuk predator digital dan eksploitasi anak. Penggunaan media sosial berlebihan juga dapat berdampak pada kesehatan mental generasi muda.
Menurutnya, anak dan remaja semakin betah di dunia digital sehingga interaksi sosial secara langsung mulai berkurang. Kondisi ini dapat membatasi kesempatan mereka untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasi di lingkungan nyata.
“Media sosial membuat sebagian anak merasa cukup dengan dunia digitalnya. Akibatnya, mereka berisiko mengalami alienasi sosial karena berkurangnya interaksi langsung dengan lingkungan sekitar,” katanya menjelaskan.
Selain itu, interaksi digital yang berlebihan dapat menghambat perkembangan kemampuan sosial, empati, dan komunikasi anak. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat membuat anak lebih individualistis serta kesulitan memahami perasaan orang lain.
| Baca juga: Perhatian Palsu di Era Digital |
Prof Ida menekankan pentingnya peran keluarga dalam membangun kebiasaan bermedia sosial yang sehat. Orang tua perlu mendampingi dan mengawasi anak agar memahami manfaat serta risiko penggunaan media sosial, sementara sekolah mendorong interaksi langsung melalui pembelajaran, komunikasi, dan kegiatan kolaboratif.
Peran masyarakat juga diperlukan agar anak memiliki literasi digital yang baik untuk menghadapi berbagai tantangan di ruang maya. Kemampuan memilah informasi, mengenali sumber terpercaya, menjaga data pribadi, serta menghadapi hoaks dan manipulasi informasi menjadi bekal penting di era digital.
“Gunakan media sosial secara bijak, seperlunya, dan dengan kesadaran penuh terhadap risiko yang ada. Bijak bermedia sosial menjadi kunci agar tetap menjadi ruang yang sehat, bukan ruang yang mengendalikan penggunanya,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....