Bahaya Internalized Misogyny dalam Budaya Siber Indonesia
- 08 Agt 2026 12:51 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Fenomena internalized misogyny atau misogini yang terinternalisasi menjadi salah satu produk budaya patriarki yang paling destruktif di ruang digital. Konsep ini merujuk pada kondisi ketika perempuan secara tidak sadar mengadopsi, memvalidasi, dan mengaplikasikan prasangka serta standar seksis gender terhadap sesama perempuan.
Di platform media sosial, fenomena ini mewujud dalam bentuk hate speech, body shaming, hingga penghakiman moral yang dilontarkan oleh netizen perempuan kepada figur publik perempuan lainnya hanya karena mereka mengekspresikan diri secara bebas. Kasus-kasus yang menimpa para konten kreator dan selebriti perempuan di media sosial menjadi bukti nyata betapa tajamnya ujaran kebencian antar sesama perempuan.
Mulai dari pelabelan stereotip, tuduhan gangguan kepribadian secara asal, hingga perundungan terkait warna kulit dan standar kecantikan seperti yang kerap dialami aktris Shenina Cinnamon menunjukkan bahwa standar masyarakat patriarki telah meretas pola pikir sebagian audiens. Perempuan sering kali dituntut untuk memenuhi ekspektasi kecantikan dan perilaku yang sangat sempit dan tidak realistis.
Secara psikologis, dorongan untuk women hating women umumnya bersumber dari rasa insecurity yang mendalam serta minimnya pencapaian atau validasi dalam kehidupan pribadi pelaku. Ketika melihat perempuan lain tampil percaya diri, sukses, atau memiliki pasangan yang diidamkan, individu yang mengalami internalized misogyny merasa terancam.
Alih-alih melakukan refleksi diri atau merawat kesehatan mentalnya, mereka memilih memproyeksikan kecemburuan tersebut menjadi ujaran kebencian di kolom komentar demi merasa "lebih unggul" secara moral maupun estetika. "Internalized misogyny adalah kemenangan terbesar sistem patriarki, sebab ia berhasil membuat perempuan menjadi garda terdepan yang saling menjatuhkan dan merusak martabat sesama perempuan."
Untuk memutus rantai kebencian ini, diperlukan kesadaran kolektif untuk berhenti memvalidasi standar patriarki di ruang digital. Edukasi mengenai female solidarity dan kesadaran kesehatan mental menjadi krusial.
Netizen perlu belajar untuk touch grass keluar dari gelembung kebencian media sosial, fokus pada pengembangan kualitas diri sendiri, serta membangun empati bahwa setiap perempuan memiliki hak penuh untuk tampil percaya diri tanpa harus terus-menerus dihakimi oleh sesamanya.
(Sumber : Rara Iftinannaurah_Unsoed)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....