Literasi Adalah Literasi, Apa Pun Bukunya

  • 08 Agt 2026 12:43 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Ketika membicarakan literasi, sebagian orang masih menganggap bahwa membaca buku tebal, karya sastra klasik, atau buku nonfiksi adalah bentuk membaca yang paling “bernilai”. Sementara itu, komik, manga, novel populer, hingga cerita fiksi ringan kerap dipandang sebelah mata. Padahal, membaca tetaplah membaca, terlepas dari apa yang menjadi pilihan setiap orang.

Dilansir dari laman uis.unesco.org, literasi pada dasarnya tidak hanya berbicara tentang jenis buku yang dibaca, tetapi juga kemampuan seseorang dalam memahami, menginterpretasikan, dan menggunakan informasi. Sedangkan merujuk pada UNESCO Institute for Statistics, literasi mencakup kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menginterpretasikan, menciptakan, dan mengomunikasikan informasi melalui berbagai materi tertulis dan cetak dalam beragam konteks.

Dengan demikian, literasi tidak seharusnya dibatasi hanya pada satu jenis bacaan tertentu. Komik dan novel grafis, misalnya, juga dapat menjadi bagian dari perjalanan seseorang dalam membangun kebiasaan membaca.

Dilansir dari laman literacytrust.org.uk, dikatakan National Literacy Trust bahwa novel grafis dapat membantu pembaca memahami cerita melalui perpaduan antara teks dan visual. Pembaca tidak hanya mengikuti kata-kata yang tertulis, tetapi juga perlu memahami ekspresi karakter, alur visual, serta hubungan antarpanel untuk menangkap keseluruhan cerita.

Begitu pula dengan karya fiksi, membaca novel bergenre romansa, fantasi, horor, atau bahkan cerita populer yang sedang ramai dibicarakan tidak otomatis menjadikan aktivitas tersebut kurang bermakna. Setiap bacaan menawarkan pengalaman yang berbeda. Ada yang memperkaya kosakata, memperkenalkan perspektif baru, mengembangkan imajinasi, atau sekadar memberikan ruang bagi seseorang untuk menikmati cerita dan beristirahat dari rutinitas sehari-hari.

Melansir National Literacy Trust, kebebasan memilih bacaan yang sesuai dengan minat pembaca menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong seseorang untuk menikmati aktivitas membaca. Hal ini menunjukkan bahwa membangun budaya membaca tidak selalu harus dimulai dari bacaan yang dianggap “serius”, tetapi dapat dimulai dari sesuatu yang memang disukai pembaca.

Pada akhirnya, tidak ada perlombaan tentang siapa yang membaca buku paling tebal atau siapa yang menyelesaikan paling banyak halaman. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menemukan kesenangan dan manfaat dari membaca. Komik, manga, novel, kumpulan cerpen, buku nonfiksi, maupun bentuk bacaan lainnya dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal dunia literasi lebih jauh.

Sebab, literasi adalah literasi. Tidak peduli apakah seseorang memulai perjalanan membacanya dari komik bergambar, novel fiksi, cerita digital, atau buku akademik. Selama seseorang membaca, memahami, dan menemukan makna dari apa yang dibacanya, proses tersebut tetap menjadi bagian dari perjalanan literasi.

Mungkin, buku yang hari ini dianggap “ringan” justru menjadi alasan seseorang untuk jatuh cinta pada dunia membaca dan suatu hari berani menjelajahi lebih banyak cerita.

(Sumber: SalshaKhoerunisa_TelkomUniversityBandung)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....