Polda Jabar Gelar Pelatihan AI Lawan Hoaks
- 30 Jul 2026 18:48 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Ratusan personel Polda Jabar mengikuti pelatihan AI selama dua hari, dari Kamis, 30 Juli hingga Jumat, 1 Agustus 2026, sebagai pembekalan untuk mengedukasi pelajar dan masyarakat agar terhindar dari kejahatan digital seperti hoaks, deepfake, hingga penipuan daring. Edukasi ini penting dilakukan mengingat AI bagaikan pisau bermata dua yang harus dimanfaatkan secara bijak di dunia digital.
Polda Jabar menargetkan 37 ribu hingga 40 ribu pelajar dan masyarakat dapat menerima pelatihan kecerdasan buatan. Program ini digelar untuk membekali warga agar mampu melawan berbagai kejahatan digital, mulai dari hoaks, deepfake, hingga beragam modus penipuan daring.
Ditengah gempuran kecerdasan buatan atau Artificial Inteligence (AI), membuat dunia digital rawan terjadinya kejahatan dan provokasi. Karenanya, SDM Polda Jawa Barat (Jabar) membuat pelatihan khusus AI kepada personelnya.
"Pesertanya dari Polda Jawa Barat dan jajaran. Mereka akan memberikan edukasi ke sekolah-sekolah, untuk mengajarkan bagaimana memanfaatkan AI dan digital. Rekan-rekan di jajaran juga bisa meneruskan ke masyarakat, gen Z, juga ke pelajar," ujar Kabag Binkar Polda Jabar, AKBP Condro Sasongko, dalam rilisnya Kamis, 30 Juli 2026.
Lalu mengapa pelatihan AI ini penting untuk menjaga keamanan dan ketertiban di masyarakat? Karena bisa mengubah setumpuk data menjadi mudah dibaca dan dipahami. Dimana, informasi dari masyarakat, data lapangan, hingga data digital bisa diolah menggunakan mesin AI.
Data yang dihasilkan akan diolah sebagai deteksi dini kejahatan, pemetaan kerawanan, analisis, respon, hingga evaluasi. Nantinya personel Polda Jabar berperan sebagai pemberi wawasan, pembimbing hingga penjaga, agar penggunaan AI tetap menjunjung tinggi tanggung jawab, etika dan aman.
"Melek AI berarti kerja lebih cerdas, respon lebih cepat, harkamtibmas lebih terjaga dengan baik. Tentunya ini sesuai dengan visi misi Pak Kapolda, yakni Jaga Rawat Jawa Barat," ujarnya menjelaskan.
Pria yang berpengalaman di bidang reskrim ini menjelaskan banyak pelajar, anak muda, dan masyarakat yang menjadi korban kejahatan berbasis AI. Oleh karena itu, mereka perlu dibekali pemahaman agar dapat melawan ancaman digital tersebut secara bersama-sama.
Personel polri hingga masyarakat nantinya diharapkan bisa melakukan cek fakta seperti yang sudah dilakukan oleh media arus utama saat ini. Dimana, banyak sekali AI diunggah ke medsos dengan tujuan provokasi. Nantinya pelajar, anak muda hingga masyarakat umum, bisa membantu penyaringan informasi di dunia digital, sehingga bisa membedakan informasi yang benar atau tidak.
"Kejahatan digital menggunakan AI saat ini masih berupa gunung es. Melek AI bukan sekedar bisa menggunakan teknologi, melainkan sebuah kemampuan komprehensif. AI membantu manusia berfikir lebih cepat, manusia tetap memegang kendali, pertimbangan dan tanggung jawab," ucapnya.
Alumni Akpol 2005 ini berharap para pelajar dapat menjadi garda terdepan dalam melawan hoaks di media sosial. Harapan tersebut didasari oleh tingginya tingkat keakraban generasi muda saat ini terhadap teknologi AI.
Mereka pada umumnya sudah bisa menggunakan kecerdasan buatan secara otodidak. Polri sendiri menargetkan 10 juta pelajar tingkat SMA sederajat bisa mendapat pelatihan tersebut.
Penggunaan AI juga harus bijak dan bertanggung jawab, agar tidak membuat bising dunia maya, seperti menimbulkan bias kelas sosial, bias gender hingga bias prasangka. Jika kecerdasan buatan digunakan dengan bijak, benar dan bertanggung jawab, akan membantu dalam membuat keputusan, diskusi kelompok hingga membantu akademik.
"Media arus utama sudah banyak yang menyediakan cek fakta. Namun informasi hoaks maupun deep fake, terutama yang menggunakan AI terus mengalir di dunia maya," katanya.
Mantan Kapolres Serang 2024-2026 ini mengungkapkan, setidaknya Polri memiliki empat tantangan dalam adaptasi teknologi, seperti Volatility, yakni perubahan situasi dilapangan yang terjadi sangat cepat. Kemudian Uncertainty, informasi dan kondisi keamanan semakin sulit diprediksi.
Selanjutnya Complexity, permasalahan masyarakat saling terhubung dan rumit. Hingga Ambiguity, yakni arus informasi melimpah, namun tidak selalu jelas dan benar. "Harapannya, adik-adik kita nanti bisa lebih memahami apa itu informasi hoaks hingga deep fake, serta menggunakan AI lebih bertanggung jawab," ucapnya menuturkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....