Cara Menghindari Penipuan Berbasis AI
- 28 Jul 2026 10:06 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Artificial Intelligence (AI) membawa banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari membantu pekerjaan hingga meningkatkan layanan digital. Namun, di balik kemajuan tersebut, teknologi AI juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk menjalankan berbagai modus penipuan yang semakin sulit dikenali.
Salah satu modus yang kini marak adalah penggunaan teknologi deepfake, yaitu AI yang mampu membuat video atau suara seseorang tampak sangat asli. Penelitian Westerlund (2019) dalam The Emergence of Deepfake Technology menjelaskan bahwa perkembangan deepfake meningkatkan risiko penyebaran informasi palsu, pencurian identitas, hingga penipuan digital yang dapat merugikan individu maupun perusahaan.
| Baca juga: Benarkah Wanita Sulit Membaca Peta? |
Selain video palsu, pelaku juga memanfaatkan AI untuk meniru suara seseorang hanya dari rekaman berdurasi beberapa detik. Laporan Global Risks Report 2024 dari World Economic Forum menyebutkan bahwa kemajuan AI generatif membuat konten palsu semakin mudah diproduksi sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap komunikasi digital yang terlihat meyakinkan.
Modus lainnya adalah pesan phishing yang dibuat menggunakan AI sehingga tata bahasanya lebih rapi, personal, dan sulit dibedakan dari pesan resmi. Penelitian Verizon dalam 2024 Data Breach Investigations Report menunjukkan bahwa rekayasa sosial (social engineering), termasuk phishing, masih menjadi salah satu penyebab utama terjadinya pelanggaran keamanan data di berbagai sektor.
Cara paling efektif untuk menghindari penipuan berbasis AI adalah tidak langsung mempercayai panggilan telepon, video, maupun pesan yang meminta uang, data pribadi, atau kode OTP. Selalu lakukan verifikasi melalui nomor telepon resmi atau hubungi langsung orang yang bersangkutan menggunakan kontak yang telah tersimpan sebelumnya.
Masyarakat juga disarankan untuk tidak mudah mengklik tautan dari pengirim yang tidak dikenal, meskipun pesan tersebut terlihat profesional. Pastikan alamat situs menggunakan domain resmi, aktifkan autentikasi dua faktor (2FA), serta rutin memperbarui kata sandi agar akun tetap terlindungi.
Jika menerima video atau rekaman suara yang mencurigakan, perhatikan tanda-tanda seperti gerakan bibir yang kurang sinkron, ekspresi wajah yang tidak alami, atau intonasi suara yang terdengar tidak konsisten. Meski teknologi AI terus berkembang, masih banyak konten palsu yang meninggalkan jejak visual maupun audio yang dapat dikenali jika diperiksa dengan cermat.
Para ahli keamanan siber juga menyarankan agar setiap keluarga atau perusahaan memiliki kata sandi rahasia untuk keadaan darurat. Langkah sederhana ini dapat membantu memastikan identitas seseorang ketika menerima panggilan atau pesan yang mengatasnamakan anggota keluarga maupun rekan kerja.
Perkembangan AI tidak dapat dihentikan, tetapi risiko penyalahgunaannya dapat diminimalkan melalui literasi digital dan kebiasaan memverifikasi setiap informasi. Dengan selalu berpikir kritis sebelum bertindak, masyarakat dapat menikmati manfaat AI sekaligus terhindar dari berbagai bentuk penipuan digital yang semakin canggih.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....