Terungkap, Misteri DNA Purba di Dinding Gua

  • 01 Jul 2026 19:36 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Untuk pertama kalinya, sekelompok paleogenetika berhasil mengekstrak DNA manusia purba langsung dari dinding gua, termasuk dari coretan titik merah yang dilukis ribuan tahun lalu. Temuan luar biasa yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications pada 23 Juni 2026 ini membuktikan bahwa dinding gua mampu mengawetkan materi genetik berharga selama puluhan ribu tahun.

Dilansir dari Nationalgeographic.com, Rabu, 1 Juli 2026, penjelajah National Geographic sekaligus spesialis seni cadas dari Tim FIRST-ART, Genevieve von Petzinger, menyebut keberhasilan menemui jejak manusia dari puluhan ribu tahun lalu ini sebagai penemuan yang sangat luar biasa. Meskipun demikian, para peneliti menegaskan bahwa DNA tersebut belum tentu milik sang seniman purba, melainkan bisa jadi milik asisten atau pengunjung yang menyentuh dinding berabad-abad kemudian.

Alba Bossoms Mesa selaku peneliti doktoral di Max Planck Institute beserta tim FIRST-ART mengumpulkan 54 sampel dari 24 panel seni cadas di 11 gua wilayah Spanyol dan Portugal, termasuk Gua Altamira. Dari puluhan sampel tersebut, hanya satu sampel pigmen dari titik merah di Gua Escoural, Portugal, yang terbukti positif mengandung DNA manusia purba.

Sampel berlapis kalsit di Gua Escoural itu menyimpan DNA Homo sapiens dari Zaman Paleolitikum Atas yang hidup setidaknya 4.000 hingga 5.000 tahun lalu, meski jenis kelaminnya belum bisa dipastikan. Alba Bossoms Mesa mengaku sempat sangat skeptis dan mengira hasil ini terlalu indah untuk menjadi kenyataan sebelum akhirnya mereka memverifikasi bahwa tidak ada kontaminasi DNA hewan di sana.

Hipólito Collado Giraldo, seorang arkeolog dari Pemerintah Extremadura Spanyol yang turut memimpin Tim FIRST-ART, meyakini bahwa riset ini menandai dimulainya era baru dalam mempelajari perilaku manusia prasejarah. Beliau berharap teknologi ini dapat memecahkan perdebatan sejarah mengenai apakah penghuni gua purba tersebut merupakan kelompok Homo sapiens atau manusia Neanderthal.

Keberhasilan serupa juga ditemukan pada dua sampel tanpa pigmen di Gua Covarón, Spanyol, sehingga total sampel yang berhasil mengisolasi DNA purba dari seluruh situs menjadi lima buah. Hasil analisis menunjukkan pemilik materi genetik di Gua Covarón tersebut adalah Homo sapiens perempuan dari kelompok pemburu-pengumpul Barat yang berusia antara 1.000 hingga 2.000 tahun.

Menanggapi hal tersebut, Pere Gelabert selaku pakar paleogenetika dari University of Vienna menilai kemampuan mengidentifikasi jenis kelamin biologis ini membuka jalan baru bagi studi seni cadas masa depan. Namun, ilmuwan yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengingatkan bahwa proses pengambilan sampel tersebut saat ini masih bersifat merusak sehingga membutuhkan kehati-hatian yang sangat tinggi.

Pandangan optimistis yang penuh kehati-hatian juga disampaikan oleh Enrico Cappellini, seorang pakar paleogenetika terkemuka dari University of Copenhagen. Enrico Cappellini mengingatkan bahwa kontaminasi alami dari sedimen atau air tetap menjadi tantangan besar, sementara Genevieve von Petzinger kini fokus melatih lebih banyak orang untuk menyempurnakan metode baru ini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....