Jaringan Rahasia Mikoriza: Sistem Peredaran Darah Bumi
- 13 Jun 2026 11:15 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Sebuah penelitian revolusioner yang diterbitkan dalam Jurnal Science berhasil memetakan jaringan bawah tanah rahasia dari Jamur Mikoriza Arbuskular yang selama ini tidak kasatmata. Untuk pertama kalinya di dunia, para ilmuwan berhasil merancang peta global yang memperlihatkan titik-titik kepadatan tertinggi dari filamen halus pembentuk miselium tersebut.
Melalui pemanfaatan model pembelajaran mesin dan analisis ribuan sampel tanah, total massa akumulatif dari jenis jamur ini diperkirakan menembus angka 300 megaton. Angka fantastis tersebut setara dengan empat hingga enam kali lipat dari total berat seluruh populasi manusia yang hidup di planet bumi saat ini.
Dilansir dari Nationalgeographic.com, Sabtu 13 Juni 2026, Direktur Eksekutif The Society for the Protection of Underground Networks (SPUN), Toby Kiers, menegaskan bahwa penemuan ini mematahkan asumsi kuno bahwa tumbuh-tumbuhan merupakan organisme mandiri yang hidup tanpa bantuan eksternal. Hubungan intim antara akar tanaman dengan hifa jamur ini sejatinya merupakan bentuk kerja sama simbiosis mutualisme ekonomi yang telah terjalin selama 450 juta tahun.
Justin Stewart selaku ahli biologi evolusi menjelaskan bahwa tanaman akan menyuplai karbon hasil fotosintesis ke dalam tanah sebagai alat tukar makanan. Sebagai imbalannya, jaringan hifa jamur yang berukuran seperspuluh rambut manusia ini akan bergerak jauh mengekstrak fosfor serta nitrogen untuk disalurkan kembali ke tanaman.
Lebih dari 70 persen vegetasi bumi termasuk komoditas pangan pokok seperti gandum, jagung, dan padi sangat bergantung pada pasokan nutrisi mikoriza ini. Di sisi lain, pakar mikologi Anne Pringle mengungkapkan tantangan besar dalam mendeteksi keberadaan jamur bawah tanah ini karena mereka bersifat transparan sebelum robot pencitraan SPUN diciptakan.
Data riset menunjukkan bahwa ekosistem padang rumput alami seperti Stepa Tibet, Everglades Florida, dan lahan basah Sudd merupakan habitat terpadat bagi biomasa hifa. Namun, Giuliana Furci selaku Direktur Fungi Foundation mengingatkan bahwa konversi lahan menjadi area pertanian konvensional terbukti memangkas kepadatan jaringan jamur ini hingga 47 persen.
Penurunan drastis tersebut diduga kuat akibat aktivitas pembajakan tanah secara masif serta ketergantungan yang berlebihan pada penggunaan pupuk kimia buatan. Meski begitu, Matthias Siewert dari Umeå University menggarisbawahi adanya keterbatasan data tanah pada wilayah ekstrem seperti Gurun Sahara dan Greenland dalam peta prediksi ini.
Terlepas dari keterbatasan itu, jaringan hifa mati yang terkubur di bawah tanah terbukti sukses mengunci sekitar empat miliar ton karbon dioksida atmosfer bumi. Melalui fungsi krusialnya sebagai pembangun habitat bagi 59 persen keanekaragaman hayati bawah tanah, SPUN kini berjuang keras untuk menciptakan kawasan konservasi hukum demi melindungi sirkulasi darah bumi ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....