Super El Nino Mengancam Bumi

  • 12 Jun 2026 20:50 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Badan Atmosfer dan Oseanografi Nasional Amerika Serikat (NOAA) secara resmi mengumumkan munculnya fenomena El Nino yang diprediksi berpotensi kuat berubah menjadi kategori ‘Super El Nino’ pada tahun ini. Fenomena alam yang diproyeksikan menjadi salah satu yang terkuat dalam satu dekade terakhir ini siap memicu kekeringan parah di sejumlah wilayah sekaligus badai destruktif di belahan bumi lainnya.

Dilansir dari Nationalgeographic.com, Jumat 12 Juni 2026, para ilmuwan memprediksi ada peluang sebesar 25 persen bagi fenomena ini untuk berkembang menjadi fase sangat kuat dengan lonjakan suhu permukaan Samudra Pasifik mencapai 1,5 derajat Celsius di atas rata-rata. Meskipun anomali ini kerap mendatangkan kekacauan cuaca global secara radikal, Emily Becker selaku profesor riset dari University of Miami menilai momen ini sebagai kesempatan emas bagi dunia untuk bersiap.

Secara ilmiah, benih dari pola cuaca yang biasanya bertahan selama 9 hingga 12 bulan ini terjadi saat angin pasat yang bertiup ke arah barat melemah secara drastis. Akibatnya, massa air hangat yang biasanya berkumpul di dekat Indonesia akan bergeser ke arah timur menuju Ekuador dan Peru sehingga mengubah total sirkulasi atmosfer bumi.

Istilah ‘Super El Nino’ sendiri merupakan label non-ilmiah dari para prakirawan cuaca untuk menggambarkan kondisi ekstrem saat suhu lautan Pasifik melonjak melebihi batas 2 derajat Celsius. Peristiwa langka yang terakhir kali terjadi sekitar sepuluh tahun lalu ini tercatat pernah memicu rekor suhu terpanas bumi, krisis air bersih di Puerto Riko, hingga kelaparan hebat di Ethiopia.

Dampak turunan dari pemanasan suhu laut ini juga sangat mematikan bagi keanekaragaman hayati seperti hancurnya populasi penguin di Kepulauan Galapagos akibat kelangkaan nutrisi dan ikan. Emily Becker menambahkan bahwa pergeseran arus angin global ini juga memicu risiko kebakaran hutan hebat di Australia dan Indonesia akibat minimnya curah hujan.

Namun, di tengah potensi bencana yang mengancal global, kehadiran El Nino tahun ini justru membawa kabar baik bagi wilayah perairan Samudra Atlantik. Phil Klotzbach selaku peneliti badai senior dari Colorado State University (CSU) memprediksi bahwa musim badai di Atlantik akan berada di bawah rata-rata normal.

Hal tersebut dapat terjadi karena El Nino memicu kemunculan angin geser vertikal yang sangat kuat untuk mematahkan pembentukan badai besar di udara sebelum sempat mencapai daratan. Meskipun demikian, tim peneliti memperingatkan masyarakat untuk tetap waspada mengingat model komputer terkadang cenderung memprediksi suhu permukaan laut secara berlebihan selama musim semi.

Para ilmuwan menegaskan bahwa kepastian mengenai tingkat kekuatan penuh dari hantaman ‘Super El Nino’ ini baru akan terjawab secara akurat pada awal musim gugur mendatang. Melalui pemantauan sensor bawah air dan satelit canggih, kesiapan data ini diharapkan mampu meminimalisir dampak kerugian masif yang ditimbulkan oleh fenomena alam purba ini.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....