Rahasia di Balik Warna Biru ‘Cerulean’

  • 02 Mei 2026 18:40 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Karakter Miranda Priestly dalam film The Devil Wears Prada pernah memberikan kuliah ikonik mengenai sejarah mode sweater berwarna biru ‘cerulean’ (warna biru langit atau biru laut). Namun, di balik dunia fasyen, warna cerulean menyimpan sejarah panjang sebagai salah satu pigmen yang paling langka dan sulit diciptakan di alam.

Kata cerulean berasal dari bahasa Latin caeruleus, yang berarti biru tua ‘caelum’ –yang kemungkinan besar berasal dari ‘caelulum’, yang berarti surga atau langit. Leatrice Eiseman, Direktur Eksekutif Pantone Colour Institute, mengatakan, ‘’Menatap langit biru membawa rasa damai dan ketenangan bagi jiwa manusia, biru langit tertanam dalam jiwa kita sebagai warna yang tenang dan damai”.

Dilansir dari Nationalgeographic.com, manusia telah melukis selama puluhan ribu tahun, tetapi jurnalis sains Kai Kupferschmidt mencatat bahwa pigmen biru baru muncul belakangan karena kelangkaannya. Pigmen sintetis pertama di dunia baru dikembangkan oleh bangsa Mesir Kuno sekitar tahun 3000 SM menggunakan kalsium tembaga silikat yang sangat berharga.

Warna biru sering kali dianggap memiliki makna simbolis yang mendalam, mulai dari jubah Bunda Maria hingga lambang perdamaian pada bendera PBB. Sejarah mencatat bahwa pada masa Renaisans, pigmen biru ultramarin dari batu lapis lazuli bahkan memiliki nilai ekonomi yang setara dengan emas.

Secara ilmiah, ahli kimia Mas Subramanian menjelaskan bahwa menciptakan warna biru sangatlah sulit karena materi harus menyerap cahaya merah berenergi rendah. Tantangan teknis terbesar dalam membuat cerulean adalah membentuk profil penyerapan cahaya agar tidak bergeser menjadi warna pirus atau hijau.

Ilmuwan Václava Antušková dari Galeri Nasional Praha melakukan riset mendalam untuk membedah rahasia kimia pigmen cerulean dari abad ke-19. Penelitian tersebut bertujuan untuk memahami bagaimana para pelukis maestro seperti Monet bisa menghasilkan warna awan yang begitu hidup pada kanvas mereka.

Eksperimen awal tim peneliti sempat mengalami kegagalan karena campuran kimia yang mereka buat justru menghasilkan warna hijau gelap yang kusam. Ternyata, resep kuno yang tercatat di buku sejarah tidak mencantumkan elemen kunci yang sangat krusial untuk menghasilkan warna biru yang cerah.

Rahasia besar terungkap ketika analisis mikroskopis menunjukkan adanya kandungan magnesium tinggi yang diduga sengaja dirahasiakan oleh produsen cat masa lalu untuk melindungi bisnis mereka. Setelah menambahkan magnesium ke dalam campuran kobalt dan timah, para ilmuwan akhirnya berhasil menciptakan kembali warna biru cerulean yang sempurna.

Saat ini, warna cerulean telah diproduksi secara massal untuk berbagai benda mulai dari plastik hingga sweater yang sering kita temukan di toko. Meskipun kini mudah didapat, warna ini tetap merepresentasikan jutaan dolar dan upaya keras manusia dalam meniru keindahan langit yang abadi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....