Brutus: Seorang Pengkhianat atau Justru Sosok Pahlawan?
- 15 Mar 2026 09:20 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Selama ini kita mengenal istilah ‘Brutus’ sebagai simbol ‘pengkhianat’. Hal ini mengacu pada peristiwa pembunuhan Julius Caesar di masa Romawi Kuno.
Dilansir dari Nationalgeographic.com, Marcus Junius Brutus menjadi simbol perlawanan terhadap tirani setelah membunuh Julius Caesar demi menyelamatkan cita-cita Republik Roma. Sejarawan seperti Plutarch dan Appian mencatat bahwa Caesar sempat melawan para penyerangnya sebelum akhirnya menyerah saat melihat sosok Brutus.
Ibu Brutus, Servilia, memiliki hubungan asmara yang lama dengan Caesar hingga muncul spekulasi bahwa sang diktator adalah ayah biologisnya. Namun, Brutus memilih bergabung dengan faksi konservatif Optimates pimpinan Pompey yang merupakan rival politik sekaligus pembunuh ayah kandungnya.
Kisah pengkhianatan ini mencapai puncaknya di Curia Pompey pada Ides Maret ketika para senator mengepung Caesar dengan belati. Meskipun Shakespeare memopulerkan kalimat perpisahan yang legendaris, Suetonius mencatat bahwa kemungkinan besar Caesar tewas tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun.
Caesar sebenarnya sangat menyayangi Brutus dan pernah memerintahkan pasukannya untuk mengampuni nyawa pemuda itu dalam Pertempuran Pharsalus. Brutus bahkan diberikan jabatan sebagai Gubernur Galia Cisalpina serta posisi praetor berkat dukungan penuh dari sang diktator yang ia bunuh.
Gaius Cassius Longinus disebut sebagai tokoh utama yang menghasut Brutus untuk masuk ke dalam konspirasi pembunuhan yang mengguncang Roma tersebut. Brutus juga merasa terbebani oleh warisan leluhurnya, Lucius Junius Brutus, yang merupakan pendiri Republik setelah mengusir raja terakhir Roma.
Istri Brutus, Porcia, membuktikan kesetiaannya dengan melukai pahanya sendiri agar dipercaya untuk berbagi rahasia gelap mengenai rencana pembunuhan Caesar. Setelah pembunuhan terjadi, situasi justru berubah menjadi kekacauan massal karena rakyat Roma merasa sangat kehilangan sosok pemimpin mereka.
Mark Antony berhasil memanfaatkan kemarahan rakyat melalui pidato pemakaman yang emosional sembari menunjukkan luka-luka pada jasad Caesar. Kesalahan fatal Brutus adalah memberikan pengampunan kepada Antony dan mengizinkan pembacaan surat wasiat Caesar yang menjanjikan hadiah bagi setiap warga.
Brutus akhirnya terpaksa meninggalkan Roma dan sempat bertemu untuk terakhir kalinya dengan orator terkenal Cicero di wilayah Velia. Kisah hidupnya berakhir tragis melalui bunuh diri di Philippi setelah ia menyadari bahwa perjuangannya membela kebebasan telah menemui kegagalan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....