Terjebak Budaya "Hustle": Fenomena Overwork Kini Hantui Pekerja Muda
- 19 Feb 2026 13:10 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Di balik gedung-gedung pencakar langit dan gemerlap ekosistem startup, sebuah krisis senyap tengah melanda pekerja muda dari generasi Z dan Milenial. Fenomena overwork atau bekerja melampaui batas waktu normal kini menjadi pemandangan umum, di mana lembur dianggap sebagai lencana kehormatan daripada sebuah masalah.
Tekanan untuk terus terlihat produktif di tengah persaingan pasar kerja yang ketat memaksa banyak dari mereka mengorbankan waktu istirahat demi ambisi karier. Data terbaru menunjukkan bahwa jam kerja di banyak sektor industri kreatif dan teknologi telah melampaui batas standar 40 jam per minggu.
Alasan utamanya sering kali berakar pada hustle culture —sebuah pola pikir yang memuja kerja keras tanpa henti sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Bagi pekerja muda, tuntutan untuk "selalu tersedia" (always-on) menciptakan beban mental yang berat, di mana batasan antara kehidupan profesional dan personal menjadi semakin kabur.
Faktor ekonomi juga memainkan peran krusial dalam melanggengkan fenomena ini. Kenaikan biaya hidup yang tidak sebanding dengan pertumbuhan upah minimum membuat banyak pekerja muda merasa harus mengambil beban kerja tambahan atau freelance di luar jam kantor utama. Rasa takut akan ketertinggalan ekonomi atau FOMO (Fear of Missing Out) secara finansial memaksa mereka untuk terus memacu diri hingga mencapai titik nadir kelelahan fisik.
Teknologi, yang seharusnya mempermudah pekerjaan, justru sering kali menjadi "rantai digital" bagi para pekerja. Notifikasi pesan instan seperti WhatsApp atau Slack yang masuk di luar jam kerja hingga larut malam membuat otak tidak pernah benar-benar beristirahat.
Kondisi ini memicu tingkat stres kronis yang jika dibiarkan, dapat berujung pada burnout —kelelahan ekstrem yang menyebabkan hilangnya motivasi dan penurunan performa kerja secara drastis. Dampak kesehatan dari overwork ini tidak bisa dianggap remeh, mulai dari gangguan tidur, kecemasan, hingga risiko penyakit kardiovaskular.
Beberapa studi psikologi menyebutkan bahwa pekerja muda yang mengalami beban kerja berlebih cenderung kehilangan rasa bahagia dan koneksi sosial dengan lingkungan sekitar. Kelelahan yang menumpuk ini pada akhirnya justru merugikan perusahaan karena meningkatnya angka absensi dan rendahnya kreativitas karyawan.
Sebagai bentuk perlawanan, kini muncul tren seperti ‘quiet quitting’ atau bekerja secukupnya sesuai deskripsi pekerjaan, serta gerakan gaya hidup yang lebih lambat (slow living). Pekerja muda mulai menyadari bahwa loyalitas tanpa batas kepada perusahaan sering kali tidak berbalas dengan kesejahteraan yang setimpal.
Mereka mulai menuntut adanya kebijakan perusahaan yang lebih manusiawi, seperti hak untuk memutus koneksi (right to disconnect) setelah jam kerja berakhir. Menanggapi fenomena ini, para pakar ketenagakerjaan menekankan pentingnya regulasi yang lebih ketat serta perubahan budaya organisasi.
Perusahaan diharapkan tidak hanya mengejar target profit, tetapi juga memprioritaskan kesehatan mental karyawannya sebagai investasi jangka panjang. Tanpa adanya perubahan sistemik, fenomena overwork ini dikhawatirkan akan menciptakan "generasi yang lelah" sebelum mereka mencapai puncak produktivitasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....