NASA Ungkap Jupiter Lebih Kecil dan Pipih

  • 05 Feb 2026 18:57 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Planet Jupiter selama ini dikenal sebagai raksasa Tata Surya dengan ukuran yang nyaris tak tertandingi. Namun, pemahaman tersebut kini mengalami pembaruan seiring berkembangnya teknologi pengamatan antariksa. 

Data terbaru menunjukkan bahwa ukuran dan bentuk Jupiter tidak sepenuhnya sesuai dengan estimasi lama yang selama puluhan tahun dijadikan rujukan ilmiah. Temuan ini menjadi pengingat bahwa bahkan planet paling besar sekalipun masih menyimpan banyak teka-teki.

Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, mengungkapkan bahwa Jupiter ternyata sedikit lebih kecil dan lebih pipih dari perkiraan sebelumnya. Informasi tersebut disampaikan NASA pada Rabu, 4 Februari 2026, berdasarkan analisis data terbaru dari misi Juno. 

Penemuan ini merupakan hasil pengamatan mendalam yang dilakukan secara berulang selama wahana tersebut mengorbit Jupiter. Hasilnya memberikan gambaran baru tentang struktur fisik planet raksasa gas tersebut.

Melalui analisis data okultasi radio dari 13 kali terbang lintas atau flyby Juno, para ilmuwan menemukan perbedaan signifikan pada ukuran Jupiter. Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy, yang dilansir dari pernyataan resmi NASA, Jupiter tercatat memiliki jari-jari ekuator sekitar 8 kilometer lebih kecil dari perkiraan sebelumnya. 

Selain itu, jari-jari di wilayah kutub juga tercatat sekitar 24 kilometer lebih pendek. Perbedaan ini membuat bentuk Jupiter tampak lebih pipih dibandingkan hasil pengukuran terdahulu.

NASA menjelaskan bahwa metode okultasi radio memungkinkan para ilmuwan menembus awan tebal Jupiter yang selama ini sulit diamati secara visual. Dalam eksperimen ini, wahana Juno mengirimkan sinyal radio ke Jaringan Luar Angkasa Dalam atau Deep Space Network milik NASA di Bumi. Saat sinyal melewati ionosfer Jupiter, gelombang radio tersebut mengalami pembelokan dan perlambatan. 

Fenomena ini memberikan petunjuk penting tentang kondisi atmosfer planet tersebut. Perubahan frekuensi sinyal radio yang diterima di Bumi kemudian dianalisis secara rinci oleh para peneliti. Dari analisis tersebut, ilmuwan dapat menghitung suhu, tekanan, hingga kepadatan elektron di berbagai lapisan atmosfer Jupiter. 

Data ini menjadi kunci untuk memahami struktur internal planet raksasa gas secara lebih akurat. NASA menilai pendekatan ini jauh lebih presisi dibandingkan metode pengukuran sebelumnya.

Pengukuran radius Jupiter yang lebih presisi memiliki peran penting dalam pengembangan ilmu astronomi modern. Jupiter selama ini digunakan sebagai standar kalibrasi utama dalam pemodelan eksoplanet raksasa gas di luar Tata Surya. 

Dengan data terbaru ini, para astronom dapat menafsirkan hasil pengamatan eksoplanet dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi. Hal tersebut dinilai krusial dalam penelitian planet-planet yang mengorbit bintang lain.

NASA menegaskan bahwa pemahaman baru mengenai ukuran dan bentuk Jupiter akan membantu pengembangan teori tentang pembentukan dan evolusi planet raksasa. Informasi ini juga membuka peluang pembaruan pada model ilmiah yang selama ini digunakan oleh para peneliti di seluruh dunia. 

Dengan misi Juno yang masih terus mengirimkan data, bukan tidak mungkin akan ada temuan lanjutan yang semakin memperkaya pengetahuan manusia tentang Tata Surya. Jupiter pun kembali membuktikan bahwa statusnya sebagai planet terbesar tidak lantas membuatnya sepenuhnya mudah dipahami.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....