Serangan Siber Berbasis AI Masif, Keamanan Digital Diperkuat

  • 02 Feb 2026 14:44 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Ancaman serangan siber di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai kian masif dan semakin mudah dilakukan. Ketua Relawan TIK Jawa Barat, Muhammad Arifin, menegaskan perlunya peningkatan sistem keamanan digital.

Arifin menjelaskan, meskipun teknologi AI membawa kemudahan, di sisi lain juga berpotensi disalahgunakan oleh pelaku kejahatan siber. Menurutnya, pola serangan siber sejatinya masih didominasi phishing, malware, hingga upaya peretasan server, namun kini dilakukan dengan cara yang lebih canggih.

“AI itu seperti pedang bermata dua. Di satu sisi memudahkan, di sisi lain membahayakan. Pola kejahatannya masih sama, tetapi sekarang bisa lebih cepat dan masif karena dibantu AI,” kata Arifin kepada RRI, Senin, 2 Februari 2026.

Ia menilai, instansi dan lembaga perlu menggunakan perangkat keamanan siber yang juga berbasis AI guna mendeteksi anomali serangan secara real time. Namun, menurutnya, masih banyak instansi yang belum meng-upgrade sistem keamanan tersebut karena keterbatasan pengetahuan dan pemahaman.

“Singkatnya, AI dilawan dengan AI. Sayangnya, tools keamanan berbasis AI ini masih jarang digunakan karena keterbatasan dan kapasitas SDM,” ujarnya.

Arifin menambahkan, sekitar 80 persen korban kejahatan siber justru disebabkan oleh faktor kelalaian manusia, bukan semata kecanggihan serangan. Ketimpangan pemahaman terkait keamanan siber masih menjadi persoalan.

Untuk itu, pihaknya mendorong instansi dan lembaga agar secara rutin meningkatkan kapasitas SDM melalui pelatihan keamanan siber dan digital forensik. Menurutnya, meskipun beberapa instansi dan lembaga menggandeng konsultan pihak ketiga, pemahaman dasar tetap harus dimiliki oleh pejabat dan pelaksana teknis.

“Pelaksanaan teknis dan pejabat terkait harus paham secara menyeluruh, tidak bisa sepenuhnya bergantung pada pihak ketiga,” katanya.

Di ranah personal, Arifin mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan digital, termasuk scam dan deepfake. Ia menekankan pentingnya literasi digital, khususnya pada pilar keamanan digital.

“Jangan mudah percaya, sama seperti di dunia nyata. Hindari akses Wi-Fi publik untuk transaksi, aktifkan autentikasi dua faktor, dan waspada terhadap deepfake suara maupun wajah,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan, Relawan TIK bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) secara berkala rutin menggelar pelatihan keamanan digital. Arifin berharap, peningkatan literasi dan keamanan digital dapat menjadi benteng utama dalam menghadapi ancaman serangan siber yang semakin kompleks di era AI.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....