Memahami Dampak Sawit Terhadap Daya Serap Tanah
- 10 Des 2025 10:54 WIB
- Cirebon
KBRN, Cirebon: Pembahasan tentang bagaimana perkebunan sawit memengaruhi siklus air kembali menjadi perhatian publik. Secara visual, pohon sawit memiliki ukuran besar, namun penyusunan kebijakan lingkungan tidak dapat bertumpu pada ukuran pohon semata.
Proses hidrologi jauh lebih dipengaruhi oleh kondisi tanah, struktur perakaran, kapasitas infiltrasi, dan besarnya limpasan permukaan. Berbagai kajian ilmiah menunjukkan bahwa kemampuan lahan sawit dalam menahan air berada jauh di bawah hutan alam yang memiliki struktur tanah lebih stabil dan berpori tinggi.
Dilansir dari laman elaeis.co, menurut penjelasan resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), persoalan banjir pada dasarnya berkaitan dengan tata kelola kawasan dan menurunnya tutupan hutan. Cuaca ekstrem hanya menjadi pemicu, sementara hilangnya vegetasi berperan besar dalam melemahkan kemampuan tanah menyerap air secara optimal.
Di lapangan, pohon sawit tetap menyerap air seperti tanaman lain. Dokumen Tim Agroklimatologi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) mencatat kebutuhan air sawit berada pada kisaran 4,10-4,65 mm per hari.
Angka ini bahkan lebih tinggi dibanding beberapa tanaman perkebunan lain, sehingga sawit tetap menjalankan proses fisiologis normal, termasuk penyerapan air dan pelepasannya kembali melalui transpirasi. Meskipun begitu, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kondisi tanah di bawah perkebunan sawit cenderung berbeda dengan hutan alami.
Tanah di area sawit biasanya memiliki kadar bahan organik yang lebih rendah. Kajian M. Raynaldo Sandita Powa dalam jurnal Teknologi Perkebunan dan Pengelolaan Sumberdaya Lahan menyebutkan bahwa kandungan organik tanah sawit berada di sekitar 2,18%, lebih rendah dari hutan yang mencapai 4,09% maupun kebun karet sebesar 3,27%.
Rendahnya bahan organik membuat struktur tanah kurang stabil sehingga kemampuan tanah menahan air berkurang. Selain itu, bobot isi tanah di area sawit tercatat lebih tinggi, yakni 1,34 g/cm³ pada kedalaman 0-30 cm dan 1,42 g/cm³ pada kedalaman 30-60 cm.
Nilai ini berada di atas rentang umum tanah liat atau lempung yang biasanya berkisar 0,95-1,2 g/cm³. Tanah yang lebih padat menyebabkan air lebih sulit meresap dan cenderung mengalir di permukaan. Limpasan semacam ini dapat dipahami sebagai kondisi ketika air hujan bergerak lebih cepat di atas tanah karena sebagian besar tidak terserap.
Pakar mencatat bahwa kondisi tersebut bukan berarti pohon sawit tidak mampu menyerap air, melainkan karena perubahan sifat tanah akibat cara pengelolaan tertentu. Ketika lahan semakin padat dan bahan organiknya menurun, kemampuan tanah untuk menahan dan menyimpan air ikut berkurang, sehingga air lebih mudah mengalir menuju bagian bawah lanskap.
Para peneliti menilai bahwa upaya pengelolaan lingkungan sebaiknya diarahkan pada peningkatan kualitas tata kelola lahan secara menyeluruh. Pendekatan ini dapat dilakukan melalui perbaikan struktur tanah, penambahan vegetasi penutup, pemulihan area yang mengalami degradasi, serta penerapan praktik budidaya yang lebih berorientasi pada konservasi.
Serangkaian langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kembali kemampuan lahan dalam menyerap dan menyimpan air, tanpa menyoroti satu jenis komoditas secara berlebihan. (Sumber: elaeis.co/Evania Sema/IPB Cirebon)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....