Suku Kajang Dinobatkan sebagai Penjaga Hutan Terbaik Dunia

  • 10 Jun 2025 12:07 WIB
  •  Cirebon

KBRN, Cirebon: Suku Kajang, Desa Tana Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, kembali mencuri perhatian dunia. Komitmen masyarakat adat ini terhadap pelestarian hutan membuat mereka dinobatkan sebagai Penjaga Hutan Terbaik di Dunia yang diberikan oleh The Washington Post pada Mei 2023.

Dalam laporannya, Suku Kajang dimasukkan sebagai contoh nyata komunitas adat yang berhasil mempertahankan kelestarian hutan di tengah gempuran modernisasi global. Dalam artikelnya yang berjudul “Penjaga Hutan Hujan Terbaik di Dunia Sudah Tinggal di Sana”, disebutkan bahwa Suku Kajang banyak berkontribusi dalam menjaga bumi melalui pelestarian hutannya. Media ternama asal Amerika Serikat itu juga menempatkan Suku Kajang dalam daftar komunitas adat dunia yang paling berhasil mempertahankan ekosistem hutannya secara alami dan spiritual.

Meski laporan itu telah tayang beberapa tahun lalu, sorotan publik Indonesia terhadap prestasi ini justru kembali mencuat setelah diangkat kembali oleh salah satu media lokal, yaitu Folkative, baru-baru ini, pada 10 Juni 2025. Banyak netizen di media sosial mengungkapkan kekaguman dan kebanggaan mereka, sekaligus keheranan karena baru mengetahui keberadaan dan keteguhan Suku Kajang.

Mengenal Suku Kajang lebih jauh, masyarakat Kajang hidup berdasarkan filosofi hidup Tallasa Kamase-Mase, yaitu sebuah ajaran untuk hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan, dan menjaga harmoni dengan alam sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan. Prinsip ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari mereka: mulai dari arsitektur rumah yang seragam demi menghindari rasa iri dan pemborosan, hingga aturan ketat dalam menebang pohon yang harus disertai penanaman kembali.

Sistem sosial Suku Kajang dibangun atas dasar gotong royong, kesetaraan, dan kepatuhan pada pimpinan adat yang dikenal dengan sebutan Ammatoa. Segala keputusan besar terkait lingkungan dan sosial harus melalui musyawarah adat, dan ditaati oleh semua warga. Mereka juga menerapkan Pasang Ri Kajang, yakni hukum adat turun-temurun yang mengatur relasi antara manusia dengan alam. Masyarakat Kajang percaya bahwa melanggar pasang berarti melukai harmoni semesta.

Selain itu, terdapat sistem pengobatan tradisional yang dikenal dengan sebutan Doti. Doti berkaitan dengan pengobatan tradisional untuk menyembuhkan penyakit atau merawat kesehatan. Praktik Doti berlandaskan prinsip ekologi dan keseimbangan. Tanaman obat digunakan secukupnya, dengan tetap menjaga kelestarian ekosistem. Pendekatan ini telah lama menjadikan Suku Kajang sebagai contoh konkret kearifan lokal yang berpadu dengan praktik konservasi modern.

Keberhasilan Suku Kajang tersebut diakui tidak hanya dalam praktik ekologisnya saja, tetapi juga karena mereka membuktikan bahwa kearifan lokal mampu menjadi solusi global dalam menghadapi krisis iklim dan degradasi lingkungan. Pengakuan internasional ini adalah kebanggaan besar bagi Indonesia. Di saat dunia sibuk mencari solusi terhadap krisis iklim, Suku Kajang membuktikan bahwa akar dari solusi global dapat ditemukan dalam budaya lokal. Bahwa kearifan nenek moyang kita bukan hanya pantas dilestarikan, tetapi juga relevan dan bisa menjadi contoh dunia. Suku Kajang telah menunjukkan bahwa hidup sederhana, bersyukur, dan selaras dengan alam bukanlah bentuk ketertinggalan, melainkan peradaban yang justru lebih maju dan berkelanjutan.

Sumber: The Washington Post, Good News From Indonesia, Rainforest Journalism Fund/Monika_UGJCirebon

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....