Akademisi: MOL Pangling dapat diperkuat melalui Digitalisasi dan Kolaborasi

  • 07 Okt 2026 12:47 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Penguatan Mobil Pangan Keliling (MOL Pangling) di Kota Cirebon dinilai dapat dilakukan melalui kolaborasi lintas pihak, pemanfaatan data harga secara real-time, serta perluasan jaringan penyaluran pangan di tingkat permukiman. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), Tedi Kustandi, mengatakan strategi tersebut diperlukan karena saat ini MOL Pangling masih mengandalkan satu armada yang berkeliling ke kelurahan setiap pekan.

Tedi mengatakan pemerintah perlu memperkuat kerja sama dengan kelurahan, pasar, produsen, Bulog, dan pihak lainnya agar pelaksanaan MOL Pangling tidak hanya bergantung pada kapasitas armada yang tersedia. Kolaborasi tersebut juga dapat membantu pemerintah memperoleh informasi mengenai kondisi harga dan kebutuhan pangan masyarakat di setiap wilayah.

“Jadi, saya kira ya tadi, yang pertamanya adalah si pemerintah ini, dia harus penguatan kerja sama antar banyak pihak, nih,” kata Tedi.

Selain kerja sama, digitalisasi data dinilai dapat membantu pemerintah menentukan wilayah yang perlu segera mendapatkan intervensi ketika terjadi kenaikan harga atau peningkatan kebutuhan pangan. Sistem tersebut dapat memberikan informasi secara real-time mengenai kondisi harga di kelurahan maupun pasar sehingga rute MOL Pangling dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Tedi mengatakan keterbatasan satu armada dapat diatasi dengan memberdayakan warung-warung kecil di lingkungan permukiman yang datanya telah diketahui oleh kelurahan dan benar-benar dikelola warga setempat. Menurutnya, warung tersebut dapat menjadi bagian dari jaringan penyaluran pangan sehingga jangkauan MOL Pangling tidak hanya bergantung pada mobil yang berkeliling.

“Kalau bisa, ketika pemerintah menggunakan kopdes, saya kira Pemkot melalui kelurahan bisa memberdayakan warung-warung di pemukiman, warung-warung kecil tapi yang benar-benar datanya di kelurahan, warga asli sebagai salah satu yang jadi penyalur juga,” ujar Tedi.

Ia juga mendorong agar pemerintah membuka ruang masukan masyarakat mengenai komoditas yang paling dibutuhkan sehingga jenis pangan yang disediakan dapat menyesuaikan kebutuhan aktual warga. Pendekatan tersebut dinilai dapat membuat intervensi pangan lebih efektif dan efisien karena pemerintah tidak hanya menyediakan komoditas berdasarkan kebijakan, tetapi juga berdasarkan kebutuhan masyarakat di lapangan.

Dengan penguatan kolaborasi, digitalisasi, jaringan penyalur, dan pemetaan kebutuhan pangan, MOL Pangling diharapkan dapat berkembang dari program dengan satu armada menjadi sistem distribusi pangan yang lebih luas dan responsif. Langkah tersebut sekaligus dapat membantu Pemerintah Kota Cirebon memperkuat pengendalian inflasi melalui intervensi harga yang lebih tepat sasaran dan sesuai kondisi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....