Menyoal Keracunan Massal, Legislator Sebut Sistem Pengawasan Lemah
- 05 Agt 2025 11:33 WIB
- Cirebon
KBRN, Kuningan : Anggota Komisi IV DPRD Kuningan, Rosalina Devi Yanti, angkat bicara dan menyampaikan keprihatinan sekaligus desakan agar program MBG dievaluasi secara menyeluruh. Hal itu dikatakan Devi menyusul adanya peristiwa keracunan puluhan siswa SMP Negeri 1 Cilimus, Kabupaten Kuningan, diduga mengalami keracunan makanan pada Kamis (31/7/2025) siang lalu.
“Itu kan menyangkut nyawa-nyawa anak. Program MBG itu tujuannya mulia, untuk membantu kesehatan anak-anak. Tapi kalau sampai kejadian seperti ini, berarti ada yang sangat salah,” tegas Rosalina yang merupakan Legislator PDI Perjuangan, Selasa (5/8/2025).
Ia menyoroti lemahnya pengawasan terhadap pelaksanaan MBG, khususnya dalam hal transparansi menu, kebersihan dapur, proses pengolahan makanan, serta kualitas bahan baku yang digunakan.
“Sebelum disajikan, harusnya ada kabar dulu. Menu hari ini apa, dimasaknya jam berapa, apakah masakan masih segar atau tidak. Jangan sampai karena jumlahnya banyak, lalu jadi asal-asalan memasak,” ujarnya.
Menurutnya, program MBG menggunakan dana negara dan karenanya wajib dikelola secara akuntabel dan profesional.
“Harus ada keterbukaan. Ini uang negara, bukan uang pribadi. Jadi harus jelas, menu hari ini apa, jumlah porsinya berapa, nominalnya berapa. Jangan sampai dianggap sepele hanya karena program ini dilaksanakan masif. Ini menyangkut manusia, apalagi anak-anak,” lanjutnya.
Rosalina juga mempertanyakan kesiapan teknis penyelenggara MBG di sekolah-sekolah, terutama dalam menghadapi skala besar penyajian makanan.
“Kalau memang ingin jadi seperti dapur umum untuk ribuan anak, ya harus siap. Tenaganya harus cukup, dapurnya steril, semua diperhitungkan. Jangan sampai imbasnya ke anak-anak. Jangan ada alasan ‘siswanya banyak, menunya banyak’ kalau memang belum siap,” tandasnya.
Pihaknya di Komisi 4 DPRD Kuningan berkomitmen untuk segera melakukan koordinasi dengan dinas pendidikan, dinas kesehatan, dan pihak penyelenggara MBG guna mengevaluasi secara menyeluruh pelaksanaan program ini agar kejadian serupa tidak terulang.
Sementara itu, pihak sekolah dan Dinas Kesehatan Kuningan masih melakukan penelusuran penyebab pasti dari kejadian ini. Sampel makanan dilaporkan telah diambil untuk diuji lebih lanjut di laboratorium.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari penyelenggara MBG di tingkat sekolah maupun kabupaten. Masyarakat dan orang tua siswa berharap ada kejelasan, pertanggungjawaban, dan perbaikan sistem, mengingat program MBG akan terus berjalan sebagai bagian dari kebijakan nasional.
Seperti diketahui, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi upaya peningkatan gizi dan kesehatan peserta didik, justru memicu kekhawatiran setelah puluhan siswa SMP Negeri 1 Cilimus, Kabupaten Kuningan, diduga mengalami keracunan makanan pada Kamis (31/7/2025) siang lalu.
Gejala yang dialami para siswa antara lain mual, muntah, pusing, hingga sesak napas tak lama setelah menyantap menu makan siang dari program MBG. Sejumlah siswa yang kondisinya memburuk langsung dilarikan ke Puskesmas Cilimus untuk mendapatkan penanganan medis. Sementara siswa dengan gejala ringan ditangani langsung di lingkungan sekolah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....