TKHI Kloter 23 KJT Siap Dampingi Jemaah Haji Kota Cirebon hingga Pulang

  • 09 Mei 2026 13:49 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) Kloter 23 KJT Kota Cirebon memastikan kesiapan pendampingan kesehatan bagi seluruh jemaah sejak masa persiapan hingga kepulangan ke Indonesia. Pengawasan lebih intensif juga dilakukan terhadap jemaah dengan risiko kesehatan tinggi agar tetap layak terbang dan mampu menjalankan ibadah haji dengan kondisi fisik serta mental yang baik.

Hal tersebut disampaikan anggota TKHI Kloter 23 KJT Kota Cirebon, Regian Destri Komariah, kepada RRI saat pelepasan jemaah haji di Komplek Korem 063/Sunan Gunung Jati, Kota Cirebon, Jumat, 8 Mei 2026. Menurutnya, pendampingan kesehatan dilakukan secara menyeluruh sejak sebelum keberangkatan hingga jemaah kembali ke Indonesia.

Regian menjelaskan, persiapan kesehatan jemaah dilakukan sejak awal melalui bimbingan dan pembinaan kesehatan, pemeriksaan kondisi fisik, hingga pendampingan selama jemaah menjalankan ibadah di Tanah Suci. Tim kesehatan juga berupaya memastikan jemaah memiliki kesiapan mental agar dapat menjalani seluruh rangkaian ibadah dengan aman dan lancar.

“Persiapannya itu dari awal, dari mulai dengan bimbingan pemanasan kesehatan, sampai nanti kami menemani jemaah yang tergabung dalam kloter-kloterbang, mendampingi dari awal sampai nanti kembali lagi di Indonesia,” ujar Regian.

Ia menuturkan, pemeriksaan kesehatan calon jemaah telah dimulai sejak masa tunggu keberangkatan dengan melihat kondisi kesehatan masing-masing untuk menentukan tingkat risiko, baik ringan, sedang, maupun tinggi. Dari hasil pemeriksaan tersebut, tim kesehatan kemudian melakukan pengolahan data guna memastikan penanganan dan pendampingan yang tepat bagi setiap jemaah.

Selain melakukan pemeriksaan, tim kesehatan juga memberikan promosi kesehatan dan edukasi kepada jemaah agar mampu menjaga kondisi tubuh secara mandiri selama berada di Arab Saudi. Menurut Regian, pelaksanaan ibadah haji membutuhkan stamina serta daya tahan tubuh yang optimal karena padatnya aktivitas dan perbedaan kondisi cuaca.

Menurut Regian, jemaah dengan kategori risiko tinggi akan mendapatkan perhatian khusus melalui klasifikasi lanjutan sebagai jemaah prioritas risiko tinggi. Karena itu, pengawasan kesehatannya dilakukan lebih ketat selama proses keberangkatan maupun saat menjalani ibadah haji.

“Nanti dari yang risiko tinggi itu akan kami olah lagi menjadi jemaah risiko prioritas risiko tinggi. Nah, dari itu akan kami tandai seperti itu, dan juga akan kami lebih ketat pemantauannya seperti itu,” katanya.

Ia menambahkan, pemeriksaan kesehatan juga akan kembali dilakukan di embarkasi untuk menentukan apakah jemaah dinyatakan layak terbang atau perlu penundaan keberangkatan ke kloter berikutnya. Penundaan bahkan dapat dilakukan hingga tahun berikutnya apabila kondisi kesehatan jemaah tidak memungkinkan untuk melaksanakan perjalanan jauh.

Regian mengimbau seluruh jemaah haji agar menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah dengan memprioritaskan ibadah wajib dan menyesuaikan ibadah sunnah sesuai kemampuan fisik masing-masing. Ia mengingatkan puncak ibadah haji berada di Arafah sehingga kondisi tubuh perlu benar-benar dipersiapkan agar jemaah dapat menjalani seluruh proses ibadah secara maksimal.





google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....