Pedagang Boboko Keliling Majalengka Naik Haji, Bukti Disiplin Menabung
- 24 Apr 2026 09:23 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Majalengka - Di balik langkah sederhana seorang pedagang keliling, tersimpan kisah keteguhan yang menembus batas keterbatasan ekonomi. Eye Sunarya (54), warga Desa Tarikolot, Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, akhirnya mewujudkan impian menunaikan ibadah haji pada musim haji 2026.
Pria yang akrab disapa Wa Mumu itu akan berangkat ke Tanah Suci bersama sang istri, Siti Mariah (48), sebagai bagian dari calon jemaah haji kloter 06 asal Majalengka. Keduanya dijadwalkan bertolak pada Minggu, 26 April 2026 melalui BIJB Kertajati, Majalengka.
Perjalanan hidup Wa Mumu menjadi potret nyata ketekunan dan kesederhanaan. Sejak lulus Sekolah Dasar pada 1981, ia menekuni profesi sebagai pedagang boboko dan kerajinan bambu. Dengan cara tradisional, dagangannya dipikul di pundak, menyusuri kampung demi kampung di wilayah Palasah hingga Leuwimunding.
"Setiap hari saya berkeliling membawa boboko dan anyaman bambu. Saya ambil dari saudara yang menjadi pengrajin, lalu saya jual ke kampung-kampung," ujar Wa Mumu, Jumat 24 April 2026
Di tengah arus modernisasi yang mendorong banyak pedagang beralih ke kendaraan bermotor, Wa Mumu tetap mempertahankan cara berjualan secara manual. Baginya, kesederhanaan adalah prinsip hidup yang tak tergoyahkan.
Setelah lima tahun berjualan di kampung halaman, ia merantau ke Purwakarta bersama istrinya untuk melanjutkan usaha serupa. Dari hasil jerih payah itu, perlahan ia mulai membangun mimpi besar: menunaikan ibadah haji.
Pada 2013, di tengah penghasilan yang hanya sekitar Rp30.000 per hari, Wa Mumu memberanikan diri mendaftarkan diri bersama istrinya sebagai calon jemaah haji. Dengan disiplin tinggi, ia menyisihkan Rp10.000 setiap hari untuk tabungan haji.
Prinsip hidup sederhana yang diwariskan orang tuanya menjadi pegangan. Separuh penghasilan ditabung, sementara sisanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Perjuangan panjang selama lebih dari satu dekade itu akhirnya berbuah manis. Wa Mumu dan istri kini bersiap menapaki perjalanan spiritual menuju Tanah Suci.
Kisah tersebut pun mengundang haru dan kebanggaan warga sekitar. H. Rega (57), salah seorang tetangga, menilai keberhasilan Wa Mumu bukanlah kebetulan.
"Pak Mumu itu orangnya sabar dan ulet. Dari dulu memang sudah punya niat kuat untuk berhaji. Kami ikut bangga akhirnya bisa terwujud," ucapnya.
Hal senada disampaikan Ibu Wiwi (50), yang menyebut Wa Mumu sebagai sosok pekerja keras dan disiplin.
"Setiap hari keliling, tetap semangat. Ini jadi contoh bagi kami semua bahwa kerja keras dan konsistensi itu penting," katanya.
Kerabatnya, Pepeh (38), juga menegaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak lepas dari kedisiplinan dalam mengelola keuangan.
"Penghasilannya memang tidak besar, tapi beliau konsisten menabung. Itu yang membuat kami kagum," ujarnya.
Warga pun turut mendoakan agar pasangan tersebut diberikan kelancaran dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji, serta kembali ke tanah air dengan predikat haji yang mabrur.
Kisah Wa Mumu menjadi cermin bahwa impian besar bukan hanya milik mereka yang berkecukupan. Dengan kesabaran, kerja keras, dan disiplin, bahkan dari langkah kecil seorang pedagang keliling, perjalanan menuju rukun Islam kelima dapat terwujud.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....