AI Mulai Bernyanyi, Akankah Musisi Tergeser?
- 17 Sep 2026 19:56 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini semakin terasa dalam industri musik. Bukan hanya membantu musisi mencari ide atau mengolah suara, teknologi AI sudah mampu menghasilkan lagu secara utuh, mulai dari vokal, melodi, hingga aransemen.
Perkembangan tersebut terlihat dari jumlah musik buatan AI yang masuk ke platform streaming. Deezer melaporkan bahwa pada Juni 2026, hampir 90 ribu lagu yang sepenuhnya dibuat menggunakan AI dikirimkan ke platform tersebut setiap hari. Pada periode puncaknya, jumlah tersebut bahkan mencapai lebih dari separuh seluruh musik baru yang diunggah ke Deezer.
Angka itu menunjukkan bahwa musik berbasis AI bukan lagi fenomena kecil di tengah perkembangan teknologi. Deezer menyebut telah mendeteksi dan menandai lebih dari 13,4 juta lagu buatan AI sepanjang 2025, sementara teknologi pendeteksinya diklaim mampu mengenali musik yang sepenuhnya dibuat AI dengan tingkat akurasi 99,8 persen.
Namun, tingginya jumlah lagu AI tidak otomatis berarti karya tersebut lebih banyak didengarkan masyarakat. Deezer menyatakan musik yang sepenuhnya dihasilkan AI hanya menyumbang sekitar 1 hingga 3 persen dari keseluruhan streaming di platformnya. Salah satu alasannya, lagu yang teridentifikasi sebagai buatan AI tidak dimasukkan ke dalam rekomendasi algoritmik maupun playlist editorial Deezer.
Persoalan lain muncul ketika musik AI berkaitan dengan keuntungan dan hak para musisi. Deezer menyebut hingga 85 persen pemutaran pada musik AI yang mereka identifikasi pada 2025 berkaitan dengan dugaan aktivitas streaming curang. Platform tersebut kemudian mendemonetisasi pemutaran yang dianggap tidak sah agar tidak masuk ke dalam perhitungan royalti.
Di sisi lain, perdebatan mengenai AI juga mulai masuk ke ranah hukum. Reuters melaporkan pada awal September 2026, sejumlah musisi, termasuk Jason Isbell dan David Lowery, menggugat perusahaan AI musik Suno di Amerika Serikat. Para penggugat menuduh teknologi tersebut dapat digunakan untuk membuat lagu yang meniru gaya atau identitas musisi tanpa izin, sementara Suno membantah tuduhan tersebut dan menyatakan teknologinya ditujukan untuk menghasilkan musik baru.
Perkembangan terbaru justru menunjukkan bahwa industri musik tidak hanya berusaha melawan penggunaan AI, tetapi juga mulai mencari cara untuk beradaptasi. Pada September ini, Suno mengumumkan model AI musik generasi terbaru melalui kerja sama dengan Warner Music Group dan BMG, dengan pendekatan yang menggunakan karya berlisensi dari artis yang berpartisipasi.
Sementara itu, Deezer pada 16 September mendapatkan Innovation Award dari Billboard France atas teknologi pendeteksi musik AI. Deezer juga menyatakan teknologi pendeteksinya telah tersedia bagi sejumlah pihak lain dalam ekosistem musik, termasuk platform streaming, distributor, dan organisasi pengelola hak.
Fenomena tersebut membuat pertanyaan tentang masa depan musik menjadi semakin menarik. Ketika sebuah lagu terdengar seperti dibuat manusia, pendengar mungkin tidak selalu dapat mengetahui siapa atau apa yang sebenarnya berada di balik suara tersebut. Bahkan, dalam uji coba yang dilakukan Deezer dan Ipsos, 97 persen pendengar tidak dapat membedakan musik buatan AI dan musik manusia dalam tes secara buta.
Pada akhirnya, kehadiran AI tidak serta-merta menghapus peran manusia dalam musik. Perkembangan sepanjang 2026 justru memperlihatkan bahwa industri sedang mencari batas baru antara teknologi, kreativitas, hak cipta, transparansi, dan nilai karya manusia. Di tengah derasnya lagu yang bisa lahir hanya dari perintah kepada mesin, tantangan berikutnya bukan sekadar membuat musik terdengar bagus, tetapi memastikan pendengar mengetahui siapa yang benar-benar menciptakannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....