The Weeknd Resmi Masukkan Nama Tomoko Aran di “Out of Time”

  • 02 Sep 2026 07:15 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - The Weeknd kembali membuat lagu “Out of Time” menjadi perhatian setelah nama penyanyi Jepang Tomoko Aran tercantum secara resmi dalam kredit lagu tersebut. Langkah ini berkaitan dengan penggunaan sampel lagu “Midnight Pretenders”, karya Aran dan Tetsurō Oda yang pertama kali dirilis pada 1983.

“Out of Time” merupakan salah satu lagu dalam album studio kelima The Weeknd, “Dawn FM”, yang dirilis pada Januari 2022. Lagu tersebut kemudian menjadi salah satu karya yang memperkenalkan kembali nuansa city pop Jepang era 1980-an kepada pendengar musik pop dan R&B modern.

Dalam proses produksinya, The Weeknd menggunakan bagian melodi dari “Midnight Pretenders” sebagai elemen penting dalam aransemen “Out of Time”. Karena penggunaan sampel tersebut, Tomoko Aran dan Tetsurō Oda tercatat sebagai penulis bersama untuk lagu The Weeknd, selain Abel Tesfaye, Daniel Lopatin, dan Max Martin.

“Midnight Pretenders” sendiri merupakan bagian dari album “Fuyū Kūkan” milik Tomoko Aran yang dirilis pada 1983. Lagu tersebut kemudian kembali mendapatkan perhatian internasional setelah “Out of Time” membawa karakter city pop-nya ke dalam produksi R&B kontemporer.

Kehadiran nama Aran dalam kredit tersebut juga memperlihatkan bagaimana pengaruh musik Jepang era 1980-an terus berkembang di tengah popularitas city pop secara global. “Out of Time” memadukan unsur tersebut dengan vokal dan produksi modern The Weeknd sehingga menghasilkan karakter suara yang menjadi salah satu daya tarik lagu dari “Dawn FM”.

Lagu “Out of Time” kemudian dirilis sebagai singel pada 25 Januari 2022 dan video musiknya menyusul pada April tahun yang sama. Video tersebut dibintangi aktris Korea Selatan HoYeon Jung dan turut memperkuat popularitas lagu yang mengambil inspirasi dari karya city pop Jepang tersebut.

Dengan masuknya Tomoko Aran dalam kredit “Out of Time”, hubungan antara musik The Weeknd dan warisan city pop Jepang menjadi semakin jelas bagi pendengar global. Fenomena ini sekaligus menunjukkan bagaimana karya dari era berbeda dapat kembali menemukan audiens baru ketika diolah melalui pendekatan musik modern.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....