Warganet Kritik Gaun Babydoll Olivia Rodrigo
- 28 Mei 2026 18:28 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Penyanyi muda berbakat, Olivia Rodrigo, kembali menjadi pusat perhatian publik, namun bukan karena prestasi musiknya semata. Gaya busananya saat tampil di atas panggung dan dalam rangkaian promosi album terbarunya memicu perdebatan di media sosial. Publik menyoroti pilihan estetikanya yang secara konsisten mengenakan gaun bermodel babydoll. Siluet baju yang longgar, potongan super pendek, serta lengan bergaya balon (puff sleeves) yang ia tampilkan dinilai oleh sebagian netizen telah melewati batas wajar bagi seorang perempuan dewasa.
Kritik ini memuncak setelah Rodrigo tampil dalam sebuah acara musik di Barcelona dengan mengenakan atasan babydoll longgar tanpa bawahan celana panjang, yang dipadukan dengan sepatu bot tinggi. Di platform digital seperti Instagram dan TikTok, opini publik langsung terpecah tajam. Kritik yang awalnya hanya berupa komentar mengenai proporsi pakaian yang dianggap aneh, dengan cepat bergeser ke arah yang jauh lebih ekstrem. Sejumlah komentator menuduh bahwa pilihan busana bintang berusia 23 tahun tersebut cenderung mengarah pada infantilisasi citra diri, dan beberapa pihak di internet bahkan mengaitkannya dengan isu sensitif seperti normalisasi ketertarikan seksual terhadap anak di bawah umur.
Isu ini dinilai banyak pengamat mode sebagai reaksi yang berlebihan sekaligus keliru secara historis. Dikutip dari Hollywood Reporter, jika ditelusuri kembali, gaun babydoll sebenarnya tidak pernah diciptakan dengan tujuan menonjolkan kepolosan anak-anak. Pakaian ini pertama kali didesain oleh Sylvia Pedlar pada tahun 1942 sebagai gaun tidur pendek demi menyiasati pembatasan bahan kain di Amerika Serikat selama Perang Dunia II. Sejak awal kemunculannya, potongan kain yang minim dan sifatnya yang lebih melambai justru dianggap provokatif dan sensual, bukan kekanak-kanakan.
Memasuki era 1960-an, supermodel Twiggy dan aktris ikonis Brigitte Bardot mengubah gaun babydoll menjadi simbol pemberontakan kaum muda. Pada zaman ketika masyarakat masih menganggap gaun panjang yang sopan sebagai standar utama kesantunan perempuan, kehadiran gaun pendek bermodel babydoll menjadi bentuk penolakan terhadap konsep kedewasaan yang kaku dan teratur. Gaya ini merepresentasikan kebebasan berekspresi dan otonomi penuh atas tubuh perempuan yang mendobrak norma sosial pada masanya.
Evolusi gaun ini sebagai simbol perlawanan berlanjut hingga tahun 1990-an. Musisi seperti Courtney Love dan Kim Gordon kerap kali menghentak panggung dengan gaun babydoll yang sengaja disobek, dipadukan dengan lipstik berantakan dan sepatu bot militer. Mereka sengaja menggunakan kontras antara siluet pakaian yang sangat feminin dengan musik yang sarat akan amarah dan distorsi. Tujuannya bukan untuk terlihat seperti balita, melainkan untuk membuat penonton merasa tidak nyaman sekaligus merebut kembali agensi feminitas agar tidak melulu tunduk pada pandangan mata pria.
Olivia Rodrigo sendiri secara terbuka mengakui bahwa gaya berbusananya terinspirasi langsung oleh warisan budaya punk dan grunge tersebut. Dengan bantuan penata gayanya, Rodrigo sengaja memadukan gaun-gaun frilly dari desainer ternama dengan elemen yang lebih tegas seperti sepatu Dr. Martens yang usang. Gaya busana ini merupakan bagian dari penceritaan visual yang terintegrasi dengan estetika album barunya. Melalui fashion, Rodrigo sebenarnya sedang melakukan parodi sekaligus merayakan kompleksitas emosi perempuan muda yang kerap kali merasa sedih, marah, namun tetap ingin tampil feminin.
Pada akhirnya, kontroversi yang menimpa Olivia Rodrigo ini menyingkap standar ganda yang masih mengakar kuat di dalam budaya pop modern. Di era ketika busana serba transparan dan ekspos tubuh secara ekstrem sudah menjadi pemandangan biasa di karpet merah tanpa memicu kecaman moral, sangat ironis melihat sebuah gaun berpotongan longgar justru dianggap sebagai ancaman sosial. Kritik ini pada dasarnya lebih mencerminkan kecemasan dan pikiran negatif dari para pengkritik itu sendiri, ketimbang merefleksikan intensi nyata dari sang artis yang hanya sedang mengeksplorasi seni berbusana.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....